10/12/2026

BNPB: Banjir dan Longsor Terjang Sinjai, Abrasi Rusak Belasan Rumah di Maluku

0

Chanelinfo Jakarta | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah bencana hidrometeorologi yang terjadi di berbagai daerah dalam periode 4–5 Juni 2026.akr Bencana tersebut meliputi banjir dan tanah longsor di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, serta gelombang pasang dan abrasi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Di Kabupaten Sinjai, banjir dan tanah longsor terjadi setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu (3/6) hingga Kamis (4/6). Banjir tercatat melanda Kecamatan Sinjai Timur, Sinjai Utara, dan Tellu Limpoe, sementara tanah longsor terjadi di sejumlah desa dan kelurahan yang tersebar di lima kecamatan.

Data BPBD Kabupaten Sinjai menunjukkan banjir berdampak pada 21 rumah warga, sekitar 60 hektare lahan persawahan, dua perahu hanyut, serta dua ekor kuda yang mati tenggelam. Selain itu, 11 ruas jalan, enam perkantoran, satu fasilitas umum, dan dua fasilitas pendidikan turut terdampak.

Meski genangan air telah surut pada Kamis (4/6), akses jalan penghubung Desa Sukamaju dan Desa Erabaru di Kecamatan Tellu Limpoe masih terputus.

Sementara itu, tanah longsor mengakibatkan tujuh rumah warga terdampak, merusak satu hektare sawah, satu jembatan, dan enam ruas jalan antardesa. Longsor juga menyebabkan pipa PDAM terputus sehingga mengganggu distribusi air bersih ke wilayah Dusun Waetuo.

BPBD Kabupaten Sinjai bersama unsur pemerintah daerah, TNI, dan Polri telah melakukan pendataan, pembersihan material longsor, serta penyaluran bantuan logistik bagi warga terdampak. Hingga saat ini tidak terdapat laporan korban jiwa. Sebagian warga yang rumahnya terdampak memilih mengungsi ke rumah kerabat.

Di wilayah timur Indonesia, gelombang pasang dan abrasi dilaporkan terjadi di Desa Aruan Gaur, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Peristiwa tersebut bermula ketika gelombang pasang menghantam pesisir dan merusak talud penahan ombak sepanjang 110 meter pada 25 Mei 2026.

Kerusakan talud menyebabkan gelombang laut menerjang permukiman warga dan merusak sejumlah rumah. Hasil pendataan Tim Reaksi Cepat BPBD mencatat sebanyak 17 kepala keluarga atau 67 jiwa terdampak. Sebanyak empat rumah mengalami kerusakan sedang dan 15 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan.

Hingga 4 Juni 2026, gelombang pasang dan abrasi masih berlangsung. Sejumlah warga mengungsi sementara ke rumah kerabat saat air laut kembali naik. Di sisi lain, masyarakat setempat berupaya membangun penahan ombak darurat secara mandiri untuk mengurangi dampak abrasi.

BNPB mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem pada masa peralihan musim hujan ke kemarau. Ancaman seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, banjir, longsor, dan gelombang tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diminta rutin memantau tinggi muka air, sedangkan warga di daerah rawan longsor diimbau mengenali tanda-tanda awal pergerakan tanah seperti munculnya retakan, runtuhan kerikil, hingga perubahan warna air sumur atau sungai menjadi keruh. BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, dan BMKG. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *