10/12/2026

Kisah Sunyi Perpustakaan Prabumulih di Era Digitalisasi

0

Di Tengah Gempuran Digital, Perpustakaan Daerah Prabumulih Bertahan Menjaga Denyut Literasi

Chanelinfo.com Prabumulih | Di tengah derasnya arus teknologi digital yang membuat informasi begitu mudah diakses hanya lewat genggaman tangan, keberadaan perpustakaan daerah perlahan terasa kian terpinggirkan. Ruang baca yang dulu ramai oleh pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum, kini tak lagi menjadi pusat aktivitas seperti era sebelum internet dan media sosial mengambil alih kebiasaan membaca masyarakat.

Fenomena itu bukan hanya terjadi di kota-kota besar, namun juga dirasakan di daerah seperti Kota Prabumulih. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah sebagai institusi yang mengemban fungsi literasi masyarakat menghadapi tantangan yang nyaris serupa dengan banyak daerah lain di Indonesia : minimnya minat baca konvensional, keterbatasan fasilitas, hingga efisiensi anggaran.

Namun di tengah berbagai keterbatasan tersebut, fungsi pelayanan literasi disebut tetap harus berjalan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Prabumulih, Drs. Mahfuzi, MSi, saat diwawancarai portal ini, Senin (18/05/2026), mengakui kondisi efisiensi anggaran cukup berdampak terhadap aktivitas layanan perpustakaan.

“Sekarang kita maklumi memang ada efisiensi anggaran. Tapi program rutin tetap jalan, seperti mobil perpustakaan keliling ke kelurahan-kelurahan ataupun ke sekolah SD dan SMP,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika sebelumnya mobil perpustakaan keliling bisa beroperasi hingga empat kali dalam seminggu, kini frekuensinya terpaksa dikurangi akibat keterbatasan biaya operasional.

“Kita juga kadang mengundang anak-anak TK datang ke perpustakaan supaya dikenalkan budaya membaca sejak dini,” tambahnya.

Di tengah menurunnya kunjungan masyarakat umum, mahasiswa justru disebut masih menjadi kelompok yang paling rutin datang memanfaatkan fasilitas perpustakaan, terutama untuk mencari buku-buku referensi akademik.

Sementara itu, kondisi gedung perpustakaan sendiri saat ini masih dalam tahap rehabilitasi. Menurut Mahfuzi, rehab ruang baca sudah dimulai sejak 2025 lalu dan kini memasuki tahap penyelesaian.

“Anggarannya sekitar Rp120 juta. Sekarang progres tinggal sekitar 20 persen lagi, insyaallah Oktober selesai. Tinggal pemasangan jendela, pintu, dan rak ruang baca anak-anak,” jelasnya.

Di sisi lain, layanan perpustakaan keliling juga menghadapi persoalan armada. Dari dua unit mobil perpustakaan yang dimiliki, kini hanya satu unit yang masih dapat beroperasi.

“Satu unit lagi sudah rusak dan rencananya kemungkinan akan dilelang,” katanya.

Mahfuzi mengakui keterbatasan fasilitas maupun sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama pihaknya. Persoalan tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari kondisi anggaran yang terbatas — persoalan klasik yang banyak dialami instansi pelayanan publik di daerah.

Tak hanya soal literasi bacaan, bidang kearsipan daerah juga perlahan mulai bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi digital.

Kabid Pembinaan, Pengawasan dan Layanan Arsip, Lesmawati SH, menjelaskan bahwa sejak tahun lalu sejumlah arsip daerah mulai dilakukan digitalisasi.

“Kita menyimpan salinan soft copy sejumlah arsip pemerintah daerah seperti sejarah pembentukan kota dan dokumen-dokumen historis umum. Nantinya bisa diakses melalui aplikasi resmi kearsipan,” ujarnya.

Ia juga memastikan masyarakat umum dapat mengajukan permintaan dokumen tertentu seperti Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Wali Kota (Perwako), sepanjang dokumen tersebut tersedia dalam data arsip pihaknya.

“Silakan ajukan surat permohonan ke kami. Kalau datanya ada pada kami, bisa diberikan,” jelas Lesmawati.

Namun di balik upaya digitalisasi tersebut, keterbatasan fasilitas penyimpanan arsip fisik masih menjadi tantangan tersendiri.

Menurut Lesmawati, hingga saat ini fasilitas penyimpanan arsip dinilai belum sepenuhnya memadai.

“Untuk sekarang fasilitas penyimpanan arsip memang belum terlalu menunjang. Kita belum memiliki ruang khusus dengan temperatur standar untuk penyimpanan dokumen fisik, termasuk lemari atau kabinet khusus untuk arsip-arsip lama,” ungkapnya.

Dari pengamatan CHANELINFO.COM, aura kompleks perpustakaan daerah kini memang terasa jauh berbeda dibanding masa-masa ketika perpustakaan menjadi pusat rujukan utama pengetahuan.

Tak hanya ruang baca yang masih direhabilitasi, lokasi perpustakaan dan kantor dinilai kurang representatif untuk pengembangan pusat literasi modern. Gedung yang saat ini digunakan diketahui merupakan bangunan eks Pengadilan Negeri Prabumulih yang berada di pinggir jalan dengan lalu lintas cukup padat.

Di sekitar kawasan tersebut tampak aktivitas perkantoran, pertokoan hingga pusat perbelanjaan modern yang membuat suasana perpustakaan terasa kurang nyaman sebagai ruang baca yang ideal.

Keterbatasan lahan parkir juga terlihat cukup mencolok. Dari pantauan portal ini, keberadaan tiga unit mobil yang terparkir saja sudah membuat halaman kantor dan perpustakaan yang berada dalam satu lokasi tampak sesak.

Sunyi ruang baca yang masih dalam tahap renovasi seakan menjadi simbol bagaimana perpustakaan daerah perlahan berjuang mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat.

Generasi hari ini mungkin tumbuh dengan mesin pencari internet, video singkat, dan kecerdasan buatan sebagai sumber informasi utama. Berbeda dengan generasi era 2000-an ke bawah yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat berburu ilmu, tugas sekolah, hingga sekadar membaca koran dan majalah.

Di tengah perubahan itu, perpustakaan daerah tampak seperti institusi yang sedang berjuang mempertahankan relevansinya. Antara keterbatasan anggaran, perubahan pola baca masyarakat, dan tuntutan digitalisasi yang terus berkembang.

Apakah perpustakaan dan institusi literasi daerah masih akan tetap eksis di masa depan?
Waktu yang akan menjawabnya. (anja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *