10/12/2026

Chanelinfo Prabumulih | Kabar mengenai utang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang disebut mencapai Rp31 miliar belakangan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Nilainya yang fantastis membuat banyak pihak bertanya-tanya, bagaimana angka sebesar itu bisa muncul tanpa terdeteksi lebih awal.

Nah, soal itulah Ujang, sopir taksi online yang saban hari keliling kota sambil mendengar cerita dari berbagai sudut kehidupan, ikut angat bedengkang.

“Mak Ooy! Tigo puluh satu miliar itu bukan duit recehan. Kalo dibuat beli pempek adaan, biso kenyang wong sekota,” celetuk Ujang sambil menunggu penumpang di depan pasar.

Menurut informasi yang beredar, proses penanganan kasus tersebut saat ini masih berjalan. Namun sebagian masyarakat mulai mempertanyakan lambatnya perkembangan penyelidikan.

Ujang mengaku mendengar keluhan itu dari banyak penumpangnya.

“Katonyo surat dari aparat penegak hukum sudah turun sejak beberapa bulan lalu. Polisi jugo sudah bergerak. Tapi masyarakat nanyo, perkembangan nyo sampai di mano?” ujar Ujang.

Selain itu, sorotan juga mengarah kepada Dewan Pengawas (Dewas) RSUD yang secara kelembagaan memiliki fungsi pengawasan terhadap operasional dan keuangan rumah sakit.

Bagi Ujang, pertanyaannya sederhana.

“Kalo aku bae panik waktu lampu indikator bensin nyala, moso utang sampai puluhan miliar dak katek yang nyadar?” katanya sambil tertawa kecil.

Menurutnya, masyarakat tentu berharap ada penjelasan yang terang mengenai bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi. Sebab persoalan bukan hanya menyangkut angka utang, tetapi juga menyangkut pelayanan kesehatan masyarakat.

Yang lebih penting lagi, kata Ujang, adalah memastikan seluruh angka yang beredar benar-benar sesuai hasil pemeriksaan dan audit resmi.

“Jangan sampai masyarakat bingung. Kalo memang utang segitu, jelaskan. Kalo ternyata beda setelah diaudit, jelaskan jugo. Yang penting terang benderang,” ujarnya.

Ujang juga berharap manajemen rumah sakit yang saat ini bertugas dapat fokus menjaga pelayanan kepada masyarakat.

“Biar aparat yang nyari tahu soal masalah masa lalu. Rumah sakit tugasnyo ngobati wong sakit. Jangan sampai pelayanan terganggu gara-gara urusan yang masih diproses,” katanya.

Di mata Ujang, masyarakat sebenarnya tidak menginginkan kegaduhan. Yang mereka inginkan hanyalah kepastian, transparansi, dan penegakan hukum yang adil.

Sebab jika memang ada kesalahan, siapa pun yang bertanggung jawab harus mempertanggungjawabkannya. Namun jika masih dalam proses pemeriksaan, semua pihak juga berhak mendapatkan kejelasan berdasarkan fakta dan hasil penyelidikan resmi.

Demikian surat Ujang hari ini.

Setelah selesai angat bedengkang soal utang Rp31 miliar, Ujang pun kembali menyalakan mesin mobilnya.

Penumpang baru sudah masuk aplikasi.

Rezeki dak boleh ditolak.

“Assalamualaikum. Aku narik dulu. Semoga masalah ini cepat terang, jangan jadi utang gaib yang ceritonyo lebih panjang dari antrean berobat.”
Sementara itu, Redaksi Chanelinfo mengonfirmasi bahwa unggahan “Surat Ujang yang Angat Bedengkang” yang beredar di akun Facebook Angga Novlianta memang merupakan bagian dari serial tulisan satir dan esai sosial yang selama ini kerap dipublikasikan melalui akun tersebut.

Saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026), Angga Novlianta membenarkan bahwa tulisan tersebut merupakan bentuk kepedulian tokoh fiktif Ujang terhadap berbagai persoalan yang berkembang di Kota Prabumulih, kota tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan.

“Ujang hanya media penyampaian. Melalui bahasa sederhana dan humor khas wong kito, Ujang mencoba menyuarakan kegelisahan, pertanyaan, sekaligus harapan masyarakat terhadap berbagai isu yang terjadi di Prabumulih,” ujarnya.

Menurut Angga, gaya bertutur Ujang sengaja dibuat ringan, dekat dengan keseharian masyarakat, namun tetap membawa pesan sosial agar publik tidak kehilangan kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.

Ia menegaskan bahwa tulisan tersebut merupakan opini satir yang bertujuan mendorong transparansi, akuntabilitas, serta kepedulian publik terhadap pembangunan dan pelayanan masyarakat di Kota Prabumulih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *