10/12/2026

Oleh JaJa

 

Sehari.

Ya, hanya berselang sehari.

Pada Selasa malam, Presiden Prabowo Subianto mencopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama dua wakilnya dari jabatan mereka. Pemerintah menyebut adanya persoalan kedisiplinan dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Belum sempat publik mencerna kabar itu.

Keesokan harinya, ketiganya justru ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung dalam perkara dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis.

Maka ramailah media sosial.

Ramailah grup-grup WhatsApp.

Ramailah warung kopi.

Sebab yang sedang dibicarakan bukan proyek biasa.

Melainkan program yang sejak awal digadang-gadang menjadi salah satu harapan besar bagi pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.

Program yang membuat banyak orang tua tersenyum.

Program yang membuat banyak anak sekolah berharap bisa menikmati makanan bergizi setiap hari.

Program yang dalam berbagai kesempatan digambarkan menghadirkan lauk yang lebih baik bagi generasi penerus negeri.

Bahkan sesekali daging sapi.

Harapan itu tentu bukan tanpa alasan.

Sebab anggaran yang disiapkan negara untuk Program Makan Bergizi Gratis bukanlah angka kecil.

Pada tahun 2025, anggaran program ini mencapai sekitar Rp85 triliun. Sementara pada tahun 2026 nilainya melonjak hingga ratusan triliun rupiah.

Angka yang bagi rakyat biasa mungkin sulit membayangkan jumlah nol di belakangnya.

Namun kini, perhatian publik justru tertuju pada dugaan penyimpangan yang sedang diusut aparat penegak hukum.

Penyidik mengungkap adanya dugaan tata kelola yang bermasalah, termasuk keterlibatan yayasan-yayasan tertentu yang disebut memperoleh keuntungan besar dari pelaksanaan program.

Tak hanya itu.

Muncul pula dugaan mark up dalam berbagai pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan program tersebut.

Mulai dari motor listrik, sepatu, tablet, hingga televisi berukuran besar yang disebut-sebut nilainya mencapai triliunan rupiah.

Tentu saja publik bertanya.

Bukankah uang sebesar itu seharusnya digunakan untuk memastikan kualitas makanan yang diterima anak-anak sekolah?

Bukankah tujuan utama program ini adalah memperbaiki gizi generasi masa depan?

Entah apa yang sebenarnya terjadi.

Biarlah penyidik bekerja.

Biarlah pengadilan nanti yang menentukan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak.

Asas praduga tak bersalah tetap harus dihormati.

Namun di tengah hiruk pikuk pemberitaan tentang pencopotan pejabat, penetapan tersangka, dan angka-angka fantastis yang beredar, ada satu hal yang tak boleh dilupakan.

Anak-anak.

Mereka yang sejak awal dijadikan alasan mengapa program ini lahir.

Mereka yang mungkin tak pernah tahu apa itu APBN.

Tak mengerti apa itu pengadaan barang dan jasa.

Tak paham apa itu mark up.

Mereka hanya tahu satu hal sederhana.

Saat jam makan tiba, mereka berharap ada makanan yang layak di atas meja.

Sepiring nasi.

Sedikit sayur.

Lauk yang bergizi.

Dan mungkin sesekali daging sapi seperti yang pernah mereka dengar dari janji-janji besar orang dewasa.

Kasihan sekali anak-anak negeri ini.

Mereka tak pernah meminta proyek.

Tak pernah meminta jabatan.

Tak pernah meminta triliunan rupiah.

Mereka hanya ingin makan siang yang layak.

Kini publik menyaksikan pejabat dicopot.

Lalu sehari kemudian menjadi tersangka.

Dan di tengah semua kegaduhan itu, JaJa hanya teringat kepada anak-anak yang sedari awal menjadi alasan program ini dibuat.

Kasihan sekali anak-anak negeri ini.

Harapan makan daging sapi dari Program Makan Bergizi Gratis, kini tinggal mimpi.

Entah sampai kapan…

Semoga suatu hari nanti, yang sampai ke piring mereka bukan lagi janji.

Melainkan benar-benar lauk bergizi yang selama ini dijanjikan negara.

“Saat orang-orang besar berebut anggaran, yang tersisa untuk anak-anak kadang hanya janji dan mimpi makan daging sapi.

Apakah karena daging sapi yang dijanjikan tak kunjung sampai ke piring anak-anak, maka DH dipecat lalu ditangkap?

Entahlah…

JaJa juga tak paham.

Ah, terserah dialah…

 

Gumam JaJa sambil menatap berita yang terus berseliweran di layar ponselnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *