Mayoritas Responden Nilai Ekonomi Indonesia Memburuk, Gejolak Pasar Keuangan Dinilai Ancam Dunia Usaha
Chanelinfo | Jakarta – Mayoritas responden dalam sebuah survei terbaru menilai kondisi perekonomian Indonesia tengah mengalami tekanan. Persepsi tersebut sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap gejolak pasar keuangan yang dinilai mulai berdampak pada sektor riil dan dunia usaha.
Berdasarkan hasil survei, sebanyak 42,4 persen responden menyatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini buruk, sementara 39,4 persen lainnya menilai agak buruk. Hanya sekitar 9,1 persen responden yang memandang kondisi ekonomi dalam kategori baik maupun agak baik.
Data tersebut turut diperkuat dengan sejumlah indikator pasar keuangan periode 3 Juli hingga 11 Juli 2026. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,23 persen dari 5.852,197 menjadi 5.924,360, penguatan pasar saham tidak diikuti oleh indikator ekonomi lainnya.
Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah melemah dari Rp17.935 menjadi Rp18.045 per dolar AS atau turun sekitar 0,61 persen. Di sisi lain, Credit Default Swap (CDS) tenor 10 tahun meningkat dari 143,500 menjadi 146,186 basis poin, mengindikasikan premi risiko Indonesia ikut mengalami kenaikan.
Survei juga menunjukkan tingginya kekhawatiran pelaku usaha terhadap dampak gejolak pasar keuangan. Sebanyak 60,6 persen responden mengaku khawatir kondisi tersebut akan memengaruhi aktivitas ekonomi riil dan dunia usaha. Sebanyak 30,3 persen menyatakan agak khawatir, sedangkan hanya 6,1 persen yang mengaku agak tidak khawatir dan 3 persen menyatakan tidak khawatir sama sekali.
Terkait penyebab kondisi tersebut, 42,4 persen responden menilai buruknya disiplin fiskal pemerintah menjadi faktor utama. Sementara 24,2 persen responden menilai keluarnya modal asing dari pasar saham Indonesia turut memperburuk situasi.
Saat diminta memberikan solusi, mayoritas responden mengusulkan langkah efisiensi fiskal. Sebanyak 27,3 persen menyarankan pemerintah mengetatkan belanja negara, sementara 27,3 persen lainnya mengusulkan menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya mengurangi beban anggaran.
Temuan tersebut menggambarkan adanya kesenjangan antara penguatan pasar saham dengan persepsi publik terhadap kondisi ekonomi nasional. Meski IHSG masih mencatat penguatan, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya premi risiko, serta tingginya tingkat kekhawatiran pelaku usaha menjadi indikator yang dinilai perlu mendapat perhatian dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor.
