Dibalik Tawa MPLS, Ada Pelajaran yang Tak Diajarkan Buku
Chanelinfo Prabumulih | Tawa itu pecah beberapa kali di aula SMA Negeri 1 Prabumulih, Selasa pagi (14/7/2026). Bukan karena para siswa baru sedang bercanda, melainkan karena materi yang biasanya terdengar serius disampaikan dengan cara yang ringan dan menghibur.
Hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) terasa berbeda. Di hadapan ratusan wajah yang masih canggung mengenakan seragam barunya, Fandri Heri Kusuma berdiri tanpa jarak. Sesekali ia melontarkan guyonan yang mengundang gelak tawa. Namun, di balik suasana santai itu, terselip pesan yang sangat penting bagi generasi yang lahir di era digital.
“Jangan sampai jempol lebih cepat daripada otak,” ucapnya, disambut senyum para peserta.
Direktur PT Zona Merah Multimedia yang juga dikenal sebagai wartawan sekaligus penggiat media sosial itu mengajak para siswa memahami bahwa media digital bukan hanya tempat hiburan, melainkan ruang publik yang menuntut tanggung jawab.
Mengangkat tema “Bijak Bermedia Digital, Cerdas Memilah Informasi, Aman Berinternet,” Fandri mengingatkan bahwa derasnya arus informasi membuat setiap orang harus memiliki kemampuan menyaring fakta sebelum percaya, apalagi sebelum membagikannya.
Menurutnya, ada empat bekal utama yang wajib dimiliki generasi muda, yakni kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.
“Media digital memberikan banyak manfaat apabila dimanfaatkan secara bijak. Pelajar harus mampu memilah informasi yang benar, menjaga etika dalam bermedia sosial, menghargai budaya digital, serta memahami pentingnya melindungi data pribadi saat beraktivitas di internet,” ujarnya.
Ia juga mengajak para siswa menjadikan internet sebagai ruang untuk belajar, berkarya, dan membangun prestasi, bukan sekadar tempat mengikuti tren ataupun menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Di tengah maraknya hoaks, perundungan siber, hingga penyalahgunaan media sosial, materi semacam ini menjadi bekal yang tak kalah penting dibanding pelajaran di dalam kelas.
Kepala SMA Negeri 1 Prabumulih, Alfran Sanius, S.Pd., M.Pd., mengatakan MPLS bukan hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk karakter peserta didik sejak hari pertama.
Menurutnya, literasi digital kini menjadi kebutuhan mendasar karena hampir seluruh aktivitas belajar maupun komunikasi berlangsung melalui perangkat digital.
“Kami berharap melalui kegiatan MPLS ini peserta didik baru dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus memiliki kemampuan literasi digital yang baik sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara bijak, aman, dan bertanggung jawab,” kata Alfran.
Selama sesi berlangsung, para siswa tampak aktif mengikuti diskusi. Mereka belajar mengenali ciri-ciri informasi yang valid, memahami bahaya hoaks, pentingnya menjaga jejak digital, hingga cara melindungi akun dan data pribadi.
Mungkin bagi sebagian orang, pagi itu hanyalah satu sesi materi dalam rangkaian MPLS. Namun bagi ratusan siswa yang baru memasuki gerbang SMA, itu bisa menjadi pelajaran pertama tentang bagaimana menjadi warga digital yang cerdas.
Sebab di zaman ketika satu klik mampu menyebarkan informasi ke ribuan orang, kecerdasan bukan lagi hanya soal nilai di rapor, tetapi juga tentang kebijaksanaan menggunakan media sosial. (chani)
