Saat Air Danau Sekintang Menyusut, Tradisi Mengalir Menyatukan Warga, Perantau, dan Warisan Leluhur
Disusun oleh : Anja Rolanza
CHANELINFO MUARA ENIM – Riuh tawa memecah hari di tepian Danau Sekintang. Ratusan warga Desa Pagar Gunung, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, berbondong-bondong turun ke dalam air yang mulai surut. Sebagian pria melangkah hingga ke tengah danau dengan tubuh berlumur lumpur. Kaum ibu berjajar di tepian mengayunkan tangkul dan tanggok, sementara anak-anak berlarian mengejar ikan yang sesekali meloncat ke permukaan.
Setiap kali seekor gabus atau sepat berhasil ditangkap, sorak kegembiraan pun pecah. Tidak ada hadiah yang diperebutkan, tidak pula perlombaan. Yang terlihat hanyalah wajah-wajah bahagia menikmati sebuah tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Tradisi itu dikenal masyarakat Sumatera Selatan sebagai Bekarang Ikan.
Di berbagai penjuru Nusantara, tradisi menangkap ikan secara bersama-sama memang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Orang Dayak di Kalimantan mengenalnya sebagai Nubak Ikan, di sejumlah daerah Minangkabau dikenal tradisi Maelo Ikan, sementara di beberapa wilayah Jambi, Riau hingga Sulawesi terdapat tradisi serupa dengan nama yang berbeda sesuai bahasa dan adat setempat.
Meski penyebutannya beragam, maknanya tetap sama. Tradisi ini merupakan bentuk panen bersama hasil perairan yang dilakukan setelah ikan dibiarkan berkembang biak selama berbulan-bulan. Karena itu, Bekarang bukan sekadar kegiatan menangkap ikan, melainkan wujud syukur kepada Tuhan, sarana mempererat persaudaraan, sekaligus cara masyarakat menjaga keseimbangan alam.
Sulit memastikan kapan tradisi Bekarang pertama kali lahir di Sumatera Selatan. Minimnya catatan sejarah membuat asal-usulnya lebih banyak hidup dalam cerita lisan para tetua kampung. Namun berbagai kajian budaya menyebut tradisi ini telah berlangsung sejak masyarakat Melayu yang mendiami kawasan Daerah Aliran Sungai Musi menggantungkan hidup pada sungai, lebak, rawa, dan danau sebagai sumber pangan utama.
Pada masa itu, masyarakat adat mengenal aturan yang kini dikenal sebagai lubuk larangan atau lebak lebung. Kawasan perairan tertentu tidak boleh diambil ikannya sepanjang tahun agar populasi tetap terjaga. Ketika musim kemarau datang dan permukaan air menyusut, masyarakat barulah diperbolehkan memanen ikan secara bersama-sama. Tanpa disadari, leluhur telah menerapkan prinsip konservasi jauh sebelum istilah pelestarian lingkungan dikenal luas.
Nilai-nilai itulah yang hingga kini masih dijaga masyarakat Desa Pagar Gunung.
Danau Sekintang menjadi saksi bagaimana tradisi leluhur tetap hidup di tengah derasnya perkembangan teknologi. Di sini, tak terlihat pukat besar, alat setrum listrik, maupun racun ikan yang dapat merusak ekosistem. Seluruh peserta hanya menggunakan tangkul, tanggok, serok sederhana, bahkan ada yang menangkap ikan dengan tangan kosong.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Selain merupakan warisan nenek moyang, penggunaan alat tangkap ramah lingkungan juga sejalan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, yang melarang penangkapan ikan menggunakan bahan peledak, racun, maupun aliran listrik karena dapat merusak sumber daya ikan dan lingkungan perairan.
Di sela-sela keramaian, Kepala Desa Pagar Gunung, Imadul Baldi, memandang tradisi Bekarang memiliki makna yang jauh melampaui hasil tangkapan.
“Kalau zaman leluhur dulu, saya membayangkan Bekarang ini seperti panen raya tahunan yang diberikan Yang Maha Kuasa. Saat itu kondisi Danau Sekintang masih sangat alami sehingga hasil ikannya melimpah. Sekarang maknanya bergeser menjadi hiburan rakyat, tradisi, sekaligus ajang silaturahmi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Baldi, banyak warga Pagar Gunung yang kini menetap di Palembang, Prabumulih, Muara Enim bahkan daerah lain sengaja mengatur waktu pulang kampung agar dapat mengikuti Bekarang bersama keluarga.
“Banyaknya ikan yang didapat bukan lagi ukuran. Yang dicari sekarang adalah kebersamaan. Bekarang menjadi alasan untuk pulang, bertemu orang tua, saudara, dan sahabat masa kecil. Tradisi ini mempertemukan kembali keluarga yang lama terpisah karena pekerjaan atau merantau,” katanya.
Suasana itulah yang membuat Bekarang selalu dirindukan. Di satu sudut tampak seorang ayah mengajari anaknya cara mengangkat tanggok. Di sudut lain, sekelompok remaja tertawa ketika temannya terpeleset ke dalam lumpur. Para lansia memilih duduk di bawah pepohonan sambil mengenang masa ketika Danau Sekintang masih dipenuhi ikan berukuran besar.
Bagi mereka, yang sedang dipanen bukan hanya ikan, melainkan kenangan.
Seiring berjalannya waktu, wajah Danau Sekintang pun terus berbenah. Pemerintah Desa Pagar Gunung sejak 2019 menata kawasan tersebut menjadi objek wisata berbasis alam tanpa menghilangkan nilai tradisinya. Gerbang masuk dibangun lebih representatif, jalur pedestrian membentang di tepian danau, menara pandang menjadi spot favorit pengunjung, sementara wahana sepeda air menambah daya tarik kawasan.
Ketika Bekarang digelar, Danau Sekintang berubah menjadi panggung budaya. Pedagang makanan memenuhi tepian danau, warga desa tetangga berdatangan, para perantau berkumpul bersama keluarga, sementara pengunjung dari berbagai daerah mengabadikan momen yang hanya datang sekali dalam setahun.
Di tengah dunia yang semakin modern, Bekarang Danau Sekintang mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu harus menghapus tradisi. Justru dari lumpur yang melekat di kaki-kaki para peserta, tersimpan pelajaran tentang gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.
Mungkin hasil tangkapan ikan hari ini tak lagi sebanyak puluhan tahun silam. Namun nilai yang diwariskan tradisi ini justru semakin berharga. Sebab selama masih ada warga yang rela pulang kampung hanya untuk turun bersama ke Danau Sekintang, selama itu pula denyut kehidupan Bekarang akan terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa sebuah desa tak hanya dikenang karena bentang alamnya, tetapi juga karena kemampuannya merawat ingatan kolektif. Dan di Pagar Gunung, ingatan itu selalu bermula dari riak air Danau Sekintang, lumpur yang menempel di kaki, serta tawa yang bergema setiap musim kemarau tiba.
