Perempuan Jadi Kunci Ekonomi Inklusif, Wamendag Roro Dorong Produk Lokal Mendunia
Chanelinfo Jakarta | Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong produk lokal hasil karya perempuan Indonesia untuk semakin memperluas pasar hingga menembus pasar global. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut disampaikan Wamendag Roro saat menjadi panelis dalam kegiatan Kunstkring Dialogue: Forum Diskusi Ekonomi Restoratif di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
“Ketika kita memberdayakan seorang perempuan, sesungguhnya kita juga memberdayakan satu generasi. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan tidak hanya penting dari sisi sosial, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Roro.
Ia mengungkapkan, lebih dari 60 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan perempuan. Sementara sektor UMKM secara keseluruhan berkontribusi sekitar 60,51 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menyerap 96,92 persen tenaga kerja, serta menyumbang 15,65 persen terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia.
Menurut Roro, berbagai produk yang dihasilkan perempuan Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar internasional. Selain memiliki nilai ekonomi, produk tersebut juga mengandung unsur kearifan lokal, keberlanjutan, dan identitas budaya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen global.
“Potensi ini harus terus didorong agar produk-produk karya perempuan Indonesia tidak hanya dikenal dunia, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi para pelaku usahanya,” katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Perdagangan menjalankan program “Dari Lokal untuk Global” yang bertujuan memperluas akses pasar bagi produk Indonesia. Melalui jaringan Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara, Kemendag aktif mempertemukan pelaku usaha nasional dengan calon pembeli potensial melalui kegiatan business matching.
Selain itu, pemerintah juga terus memperluas akses pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional dengan negara-negara mitra guna membuka peluang yang lebih besar bagi produk Indonesia, termasuk produk UMKM yang dikelola perempuan.
Dalam forum tersebut, Roro juga menekankan pentingnya penerapan ekonomi restoratif sebagai pendekatan pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, tren pasar global saat ini menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap produk berbasis keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya yang bertanggung jawab. Karena itu, pelaku usaha Indonesia perlu terus meningkatkan kualitas produk serta memenuhi standar internasional yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam rantai pasok.
Pada kesempatan yang sama, Roro memaparkan program “Desa Bisa Ekspor” yang bertujuan mendorong potensi ekspor dari daerah. Hingga kini, Kemendag bersama mitra strategis telah memetakan 2.616 desa, dengan 787 desa di antaranya telah dikategorikan sebagai desa siap ekspor.
Program tersebut diharapkan mampu membuka peluang lebih luas bagi masyarakat daerah, termasuk perempuan yang menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Ketika perempuan diberikan kesempatan untuk berkembang dan memperoleh akses pasar yang lebih luas, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, komunitas, dan generasi berikutnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Associate Director Penabulu Foundation, Wawan Suyatmiko, mengapresiasi kehadiran Wamendag Roro dalam forum tersebut. Menurutnya, pandangan yang disampaikan sejalan dengan upaya memperkuat peran perempuan sebagai penggerak ekonomi berkelanjutan.
Wawan juga menyambut baik berbagai langkah Kemendag dalam mempromosikan produk Indonesia melalui pameran internasional maupun Paviliun Indonesia di luar negeri. Ia berharap perempuan pelaku usaha terus mendapatkan dukungan, baik dalam bentuk akses pasar maupun akses permodalan, agar mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di pasar global.
Forum Diskusi Ekonomi Restoratif tersebut turut menghadirkan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Erik Teguh Primiantoro, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Agraria Kementerian ATR/BPN Sukiptiyah. Acara dipandu jurnalis senior Rosianna Silalahi sebagai moderator.
Sumber : Rillis Biro Humas Kemedag
