Ramadhan Datang, Menu MBG Ikut “Puasa”? Antara Niat Baik dan Realita Porsi Mini, Makan Bergizi atau Sekadar Seadanya
Chanelinfo.com Nusantara | Baru dua hari siswa kembali masuk sekolah di bulan suci Ramadhan, jagat media sosial diramaikan berbagai unggahan bernada keluhan terkait menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejumlah wali murid membagikan foto paket MBG yang dibawa anak-anak mereka sepulang sekolah, dengan komposisi yang dinilai jauh dari ekspektasi “makan bergizi”, meski berlabel gratis.
Dari berbagai unggahan yang beredar, paket MBG disebut rata-rata hanya berisi tiga jenis makanan sederhana. Dalam salah satu postingan, satu paket terdiri dari sepotong roti yang diperkirakan seharga seribuan rupiah, susu kemasan kotak kecil sekitar tiga ribuan rupiah, serta satu butir telur rebus.
Di Lampung, seorang warganet membagikan foto paket MBG berupa sepotong ketela ungu, pisang putri, roti, dan beberapa butir kurma. Unggahan lain memperlihatkan paket berisi satu jagung rebus yang dibagi dua serta sebuah jeruk.
Keluhan serupa muncul dari Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Seorang wali murid memposting paket berupa sebutir telur rebus, satu cup kecil tempe orek, serta sebuah apel. Di “Kota Nanas” itu bahkan beredar kalimat sindiran di media sosial, “Kemarin tekwan, hari ini roti seribuan.”
“Tekwannya tidak masalah, tapi porsinya irit sekali. Roti harga seribuan itu rasanya kurang wajar kalau disebut menu bergizi,” ujar Jaja, menanggapi unggahan tersebut.
Unggahan-unggahan itu memicu beragam komentar. Banyak warganet menilai komposisi menu terkesan minimalis dan belum mencerminkan standar gizi seimbang sebagaimana tujuan program. Sejumlah orang tua menyampaikan kekecewaan dan mempertanyakan kesesuaian menu dengan kebutuhan asupan anak, terlebih di bulan Ramadhan yang identik dengan kebutuhan energi tambahan saat berbuka puasa.
Tak sedikit pula yang menduga terjadi penghematan berlebihan dalam penyediaan menu, sehingga menimbulkan spekulasi soal potensi keuntungan lebih besar bagi pihak pengelola. Sebagian netizen mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, termasuk mekanisme pengawasan kualitas dan penggunaan anggaran.
Ada pula yang mengusulkan agar bantuan diberikan dalam bentuk uang tunai langsung kepada siswa. Bahkan, sebagian lainnya meminta program tersebut dihentikan sementara hingga dilakukan pembenahan, guna mencegah potensi penyimpangan oleh oknum tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan oppa resmi dari pihak penyelenggara terkait standar menu MBG selama Ramadhan maupun sistem pengawasan di lapangan. Masyarakat kini menanti penjelasan terbuka agar program yang digadang-gadang untuk pemenuhan gizi anak benar-benar berjalan sesuai tujuan.
Program bergizi seharusnya tidak berhenti pada label. Di tengah sorotan publik, transparansi dan evaluasi menjadi kunci agar niat baik tidak berubah menjadi polemik berkepanjangan.
