10/12/2026

Menunggu Pipa Air PDAM yang Tak Kunjung Datang, Warga Kp Johor Titip Harapan ke Pemkab Sukabumi

0

Di tengah gencarnya program perluasan layanan air bersih PDAM melalui skema MBR dan SL Mandiri, sebagian warga di Kecamatan Cibadak justru masih hidup dalam keterbatasan akses air layak. Bertahun-tahun mereka bertahan mengambil air dari pabrik dan sumber jauh, sambil menyimpan harapan sederhana: agar suatu hari pipa PDAM benar-benar sampai ke kampung mereka.

Chanelinfo.com Sukabumi | Harapan warga Kampung Johor, Kampung Paris, dan sejumlah wilayah di Desa Pamuruyan, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, untuk menikmati layanan air bersih dari PDAM hingga kini belum juga terwujud.

Di tengah komitmen Perumda Tirta Jaya Mandiri dalam memperluas jangkauan pelayanan melalui program hibah air minum bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dan program Sambungan Langsung (SL) Mandiri, masih ada masyarakat yang mengaku belum tersentuh layanan dasar tersebut.

Padahal, sejak awal berdirinya pada tahun 1990, pengelolaan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Sukabumi telah memiliki Cabang Cibadak sebagai salah satu wilayah pelayanan utama. Namun hingga kini, sejumlah kampung di Desa Pamuruyan disebut belum menikmati akses air bersih dari PDAM.

“Kalau butuh air, warga di sini ngambil ke Pabrik Japfa, kadang bawa kompa,” ujar salah seorang warga Kampung Johor.

Warga menuturkan, saat musim kemarau datang, persoalan air bersih menjadi masalah serius. Bahkan, ketika kemarau berlangsung lebih dari dua minggu, sumber air warga mulai mengering.

Masyarakat pun berharap PDAM Tirta Jaya Mandiri dapat membuka jaringan pipanisasi menuju wilayah mereka. Sebab, kebutuhan air bersih dinilai sudah sangat mendesak.

Hal serupa disampaikan Rokib, warga Kampung Paris RT 03 RW 06 Desa Pamuruyan. Ia mengatakan, warga di wilayahnya selama ini masih bergantung mengambil air ke PT Japfa ketika sumur mulai kering.

“Kalau kemarau lewat tiga minggu, sumur mulai kering. Warga ambil air ke PT Japfa, memang tidak dipungut biaya, tapi lokasinya jauh. Harus pakai motor, bahkan ada yang minta bantuan orang lain dan kasih upah,” ungkapnya.

Menurut warga, program air bersih seperti MBR dan SL Mandiri seharusnya benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan, khususnya kelompok berpenghasilan rendah yang hingga kini masih kesulitan mendapatkan akses air layak.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi bersama DPRD dapat mendengarkan aspirasi warga terkait pemerataan layanan air bersih. Mereka mendambakan hadirnya infrastruktur permanen yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber air tidak layak, sekaligus meningkatkan kesehatan dan meringankan beban ekonomi warga.

Bagi warga Kampung Johor dan sekitarnya, aliran air bersih bukan sekadar fasilitas, melainkan harapan tentang kehidupan yang lebih layak di masa depan. (ella)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *