Apip yang Apes
Malam itu, seperti biasa, setelah urusan mengetik berita dan mengedit naskah selesai, Jaja merebahkan tubuhnya di kasur.
Di sampingnya sudah ada Aak, anak ketiganya, yang paling rajin membawa cerita-cerita dari sekolah.
Anak Jaja ada empat. Yang sulung, Abang, kini sudah bekerja di Palembang. Anak kedua dipanggil Mba sekolah SMA, Aak yang ketiga, kelas 2 SD, dan si bungsu, Adek.
Dari keempat anaknya, Aak punya satu kebiasaan yang paling disukai Jaja: bercerita sebelum tidur.
Dan malam itu, Aak datang membawa kabar tentang seorang teman sekelasnya bernama Apip.
“Nah cak ini Yah,” kata Aak sambil bergeser mendekat. “Tadi waktu jam istirahat kami main di kelas.”
Jaja yang sudah hampir memejamkan mata langsung membuka sebelah matanya.
“oiyo cakmano cerito nyo?”
“Ado kawan Aak namonyo Apip. Hari ini dio bawa duit jajan seratus ribu.”
“Seratus ribu?” Jaja terkekeh.
“Iyo. Dio pamer-pamer.”
Aak langsung menirukan gaya temannya.
“‘Seratus ribu, Boy… kamu dak pernah kan bawa seratus?'”
Sambil berkata begitu, menurut Aak, Apip mengibas-ngibaskan lembar uang merahnya ke depan teman-teman sekelas.
Wajahnya pula dibuat-buat mencibir kawan-kawan.
“Alaaah…” kata Aak menirukan dirinya sendiri. “Cak itu bae sombong.Gek sial kau baru tau raso.”
Jaja tersenyum.
“Bapaknyo Apip mungkin berduit, Ak. Ayah jugo bakal ngasih kalau kayo.”
Kalimat itu diucapkan sambil tertawa, walaupun dalam hati terasa sedikit kecut juga.
Aak melanjutkan ceritanya.
“trus kami main kejar-kejaran keliling kelas.”
“Nah, duit seratus tadi ditarok Apip di atas meja.”
“Ditarok bae?”
“Iyo. dibuatnyo tulisan pulo”
“Tulisan apo?”
Aak langsung tertawa sebelum menjawab.
“‘Jangan diambek duitnyo ye miskin!'”
Kali ini Jaja benar-benar tergelak.
“Aduuuuh…”
Lalu datanglah bagian paling menarik dari cerita.
Saat anak-anak berlari ke sana kemari, entah siapa yang menyenggol meja Apip.
Lembar uang seratus ribu itu melayang jatuh ke lantai.
Sialnya, tepat di bawah meja ada genangan air minum yang tumpah sejak tadi.
Plup!
Uang itu jatuh dan basah.
“Tapi Apip dak tau, Yah.”
“Terus?”
“Pas dio nengok ke meja…”
Aak menegakkan badan menirukan kepanikan temannya.
“Duit aku mano?!”
Menurut Aak, Apip langsung merangkak ke bawah meja.
Mencari ke sana kemari.
Mengintip ke bawah kursi.
Membongkar tas.
Sampai wajahnya mulai pucat.
“Kami jugo ikut nyari.”
“Ketemu?”
“Nah itu dio.”
Aak sudah tertawa duluan sebelum menyelesaikan cerita.
“Tibo-tibo Apip nengok ke sepatu nyo.”
“Dio lihat ado merah-merah nempel.”
“Duitnyo?”
“Iyo!”
Ternyata lembar uang seratus ribu yang basah itu menempel di telapak sepatunya.
Dengan wajah penuh harapan, Apip segera mencabutnya.
Namun harapan itu cuma bertahan beberapa detik.
Begitu ditarik…
Creeeet!
Lembar uang yang sudah lembek karena air itu robek.
Separuh masih menempel di sepatu.
Separuh lagi ada di tangannya.
“Hahaaaahaaaaaaa!!!!”
Aak sampai menepuk-nepuk kasur menirukan suasana kelas.
“‘Aiiiy siaaaaal !!!’ jerit Apip.”
“Kami ketawo galo…”
Ado jugo yang ngatoi sukuur lah
Jaja pun ikut tertawa.
Tawa ayah dan anak itu memenuhi kamar beberapa menit lamanya.
Namun setelah gelak mereda, Jaja mengusap kepala Aak.
“Yo, itulah Ak. Kito dak boleh sombong.”
Aak mengangguk.
“Tapi,” lanjut Jaja, “Aak jugo jangan senang kalau kawan dapat musibah.”
“Jangan jugo nyumpahin wong.”
Aak kembali mengangguk.
“Iyo Yah.”
Malam semakin larut.
Tawa berubah menjadi senyum.
Senyum berubah menjadi kantuk.
Setelah doa sebelum tidur dipanjatkan kepada Sang Pencipta, mata keduanya perlahan terpejam.
Dan entah di rumah mana malam itu, mungkin Apip masih memikirkan nasib uang seratus ribunya yang robek separuh.
Sedangkan di rumah Jaja, yang tersisa hanyalah satu cerita lucu, satu pelajaran kecil, dan satu malam hangat antara ayah dan anak. 😄
JaJa
suatu malam di 2026
