Kadal Tersangkut, Gabus Terlepas
“Ayah… lihat… Aak dapet kadal!”
Seru Aak sambil mengangkat pancingnya yang ternyata mengait seekor kadal bengkarung.
Ayah JaJa yang sedang duduk di teras rumah sore itu sambil mengasuh si bungsu sontak keheranan lalu terkekeh.
“Naah… cakmano biso dapet kadal?”
“Tadi Aak mancing di sungai depan rumah kito ini. Pas Aak lempar ke banyu, tau-tau umpan nyo disamber kadal itu,” jawab Aak dengan cengiran khasnya.
“Ooh… Aak tadi pake umpan apo?”
“Cacing lah, Yah. Cak biaso nyo tulah.”
Seminggu kemudian, Ayah dan Aak kembali mancing.
Mereka memang sering memanfaatkan waktu luang saat libur dengan memancing di sungai kecil depan rumah. Ikannya memang tidak banyak. Sesekali hanya dapat palau, lele anakan, atau ikan wader kecil-kecil. Tapi cukuplah menjadi hiburan murah meriah ala JaJa dan Aak, putera ketiganya yang masih duduk di kelas dua SD.
Sore itu mereka memancing di spot yang tidak berjauhan.
Tiba-tiba terdengar teriakan Aak.
“Ayah…! Aak dapet gabus!”
Ayah JaJa yang sedari tadi bengong menunggu umpannya disambar ikan langsung berdiri dan menghampiri.
Benar saja.
Seekor ikan gabus sebesar dua jari sudah bergelantungan di ujung pancing Aak.
Ayah segera melepas kail lalu memasukkan ikan itu ke dalam ember.
“Oii Aak, tadi dapat di mano? Ceritoke cakmano.”
Sambil merekam dengan ponselnya, Ayah meminta Aak mengulang kronologinya.
Dengan bangga Aak menghadap kamera.
“Tadi itu di saluran paret. Aak keliatan ikan gabusnyo lagi diam. Terus Aak pasang umpan di depan mulutnyo. Langsung dimakan nyo. Aak sentak, dapat!”
Aak tersenyum lebar, memperlihatkan satu dua giginya yang ompong.
Sore itu Aak juga mendapatkan beberapa ekor ikan wader kecil. Sementara Ayah JaJa… seekor pun tidak dapat.
Sesampainya di rumah, Aak senang bukan kepalang.
Ikan gabus dipindahkan ke ember besar di teras rumah. Sedangkan ikan-ikan wader dimasukkan ke akuarium.
Malam harinya hujan turun sangat deras.
Aak tidur dengan puas.
Namun keesokan paginya, begitu bangun tidur, hal pertama yang dilakukannya adalah melihat ember tempat ikan gabus kesayangannya.
Betapa terkejutnya ia.
Air di ember yang kemarin sore hanya seperempat, pagi itu sudah penuh meluber. Dan ikan gabus yang begitu dibanggakannya sudah tidak ada lagi.
Mungkin terbawa air yang meluap.
Mungkin ditangkap tikus.
Mungkin juga dimakan kucing.
Entahlah.
Yang pasti, ikan itu telah hilang.
Aak kecewa.
Ayah JaJa hanya bisa mengusap kepala puteranya.
“Dak apo-apo. Gek mancing bae lagi.”
Beberapa hari kemudian mereka memancing lagi.
Dan kali ini Aak mendapatkan seekor ikan palau yang ukurannya hampir sama dengan gabus yang hilang itu.
Seketika wajahnya kembali cerah.
Dari pengalaman sederhana itu, Ayah JaJa merasa ada pelajaran kehidupan yang cukup dalam.
Kadang umpan dipasang, yang nyangkut bukan yang diinginkan. Pas yang dicari sudah dapat, malah lepas. Dan anehnya, ketika rasa kecewa sudah lewat serta keinginan itu hampir terlupa, yang diharapkan tadi datang menghampiri lagi dalam rupa yang berbeda.
…gumam JaJa sembari menatap Aak yang kembali sibuk dengan pancingnya di tepi sungai.
—JaJa
Sabtu Senja 06 Juni 2026
