10/12/2026

Belasan tahun lalu, JaJa pernah menyaksikan sebuah kejadian yang hingga kini masih sulit dicerna oleh nalar.

Ceritanya bermula ketika Ibunda JaJa mengalami keluhan pada organ dalamnya. Berbagai upaya pengobatan telah dijalani, namun kondisi beliau tak kunjung membaik. Akhirnya dilakukan pemeriksaan menggunakan USG.

Hasil pemeriksaan itu membuat kami sekeluarga terpukul.

Menurut dokter yang memeriksa, terdapat kanker di rahim Ibu dan disarankan untuk segera menjalani operasi.

“Ya Allah…”

JaJa, Bapak, dan Ibu hanya bisa terdiam. Rasanya lemas mendengar kabar tersebut.

Operasi…

Tapi uangnya dari mana?

Pada masa itu, informasi yang kami terima, biaya operasi kanker berkisar antara sepuluh hingga dua puluh juta rupiah. Jumlah yang sangat besar bagi keluarga kami saat itu.

Kami bingung.

Takut.

Tak tahu harus berbuat apa.

Namun kami berusaha untuk tidak berputus asa.

Doa terus dipanjatkan.

Munajat dilakukan di setiap kesempatan.

Urusan itu kami pasrahkan kembali kepada Yang Maha Mengatur Semesta.

Pengobatan tetap dijalani semampunya.

Hari-hari berlalu.

Pekan demi pekan terlewati.

Bulan pun berganti.

Sampai suatu hari, Han, anak angkat Bapak, datang bersilaturahmi ke rumah.

Dalam perbincangan santai, penyakit yang diderita Ibu pun diceritakan kepadanya.

Dan dari sinilah, seakan jawaban atas doa-doa yang kami panjatkan mulai datang.

Han bercerita tentang seorang temannya yang biasa dipanggil Gus. Menurut cerita, Gus dianugerahi titipan ilmu untuk membantu pengobatan orang-orang yang datang kepadanya. Orang-orang biasa menyebutnya tabib. Bahkan, kata Han, sudah ada beberapa orang yang merasa terbantu setelah berobat kepadanya.

Dengan harapan memperoleh kesembuhan, kami pun mencoba ikhtiar melalui jalur pengobatan alternatif tersebut.

Alasannya sederhana.

Kami memang tidak memiliki biaya untuk operasi yang nilainya puluhan juta rupiah itu.

Ketika pertama kali bertemu Gus, JaJa, Ibu, dan Bapak sempat merasa ragu.

Penampilannya sama sekali tidak seperti sosok tabib yang sering dibayangkan orang.

Saat itu usianya sekitar empat puluhan tahun. Pakaiannya sederhana. Cara bicaranya biasa saja. Siapa pun yang baru mengenalnya mungkin tidak akan menyangka bahwa ia sering didatangi orang-orang yang meminta bantuan pengobatan.

Singkat cerita, terapi pun dimulai.

Ibu diberikan racikan herbal dan beberapa amalan serta penanganan spiritual bernuansa religius.

Pekan demi pekan berlalu.

Hingga suatu hari JaJa berpamitan untuk menjenguk istri yang sedang berada di rumah mertua.

Sebelum berangkat, Ibu dan Bapak tersenyum sambil meyakinkan JaJa agar tidak terlalu memikirkan penyakit yang sedang diderita Ibu.

Keesokan harinya, telepon JaJa berdering.

Ternyata Ibu yang menelepon.

Dengan nada cemas, beliau mengatakan bahwa dirinya mengalami pendarahan.

JaJa langsung tercekat.

Berbagai kemungkinan buruk terlintas di pikiran.

Namun kemudian Ibu menjelaskan bahwa setelah ditanyakan kepada Gus, justru itu disebut sebagai kabar baik.

Menurutnya, insya Allah itu pertanda penyakit yang selama ini diderita sedang berhasil diobati.

Meski begitu, JaJa tetap belum sepenuhnya yakin.

JaJa segera menanyakan bagaimana kondisi fisik Ibu.

Syukurlah, beliau mengatakan kondisinya masih cukup stabil dan tidak mengalami keluhan yang mengkhawatirkan.

Sekitar tiga hari kemudian, Ibu diantar Bapak untuk kembali menjalani pemeriksaan USG.

Dan pada hari itu, Allah menunjukkan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada keluarga kami.

Hasil USG menunjukkan bahwa kanker yang sebelumnya terdeteksi sudah tidak ditemukan lagi.

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kami sekeluarga sangat bersyukur.

Gus dengan bijak dan rendah hati mengatakan bahwa bukan dirinya yang menyembuhkan.

“Bukan saya yang membantu. Allah-lah yang mengabulkan doa-doa kalian.”

Kalimat itu masih JaJa ingat hingga sekarang.

Kisah ini bukan bermaksud mengajak pembaca memilih pengobatan alternatif dibandingkan pengobatan medis.

Bukan pula untuk membandingkan keduanya.

JaJa hanya ingin berbagi pengalaman bahwa ketika ujian datang dalam keadaan serba sempit, saat jalan keluar seolah tidak terlihat, Yang Maha Kuasa tetap memiliki kasih sayang yang tak terbatas kepada hamba-Nya.

Dia tidak membebani seseorang melampaui kemampuannya.

Dan sering kali, pertolongan datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Sebagaimana firman-Nya, barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Itulah pelajaran yang paling membekas dari peristiwa yang dialami keluarga JaJa bertahun-tahun lalu.

Dan saat JaJa selesai menulis ulang pengalaman hidup ini, tanpa mampu menahannya, air mata pun mengalir. Kenangan tentang pertolongan Allah, perjuangan Ibu dan Bapak, serta masa-masa sulit yang pernah kami lalui kembali hadir begitu jelas di hati. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada keluarga kami.

JaJa

Sabtu 13 Jun 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *