GPT : Robot Impian Masa Kecil Jaja Kini Nyata
oleh : Anja Rolanza
Di sebuah ruangan sederhana, seorang pria duduk sendirian di depan layar ponselnya.
Di sekelilingnya berserakan catatan berita, potongan draft tulisan, dan secangkir kopi yang sudah kehilangan panasnya sejak lama.
Pria itu bernama Jaja, umurnya kepala empat, seorang wartawan.
Namun malam itu, ia tidak sedang menulis berita.
Ia sedang menatap sesuatu yang lebih jauh dari ruang redaksi, lebih jauh dari headline, lebih jauh dari rutinitas yang selama ini ia jalani: sebuah percakapan dengan “robot” yang tidak benar-benar berbentuk robot.
Di layar ponselnya, tampak gambar sederhana: kepala kotak, antena kecil, layar di dada bertuliskan GPT.
Jaja tersenyum kecil.
Bukan tawa. Bukan heran. Lebih seperti seseorang yang baru saja bertemu sesuatu yang lama ia lupakan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
“Jadi kamu akhirnya ada juga,” katanya pelan.
Dunia sebelum layar menyala
Untuk memahami mengapa malam itu begitu personal bagi Jaja, kita harus mundur jauh ke belakang—ke masa ketika dunia belum dipenuhi notifikasi, belum dipenuhi algoritma, dan belum dipenuhi layar kecil di genggaman tangan.
Di masa itu, masa kecil Jaja diisi oleh hal-hal yang sederhana.
Televisi tabung menjadi jendela dunia.
Komik menjadi pintu imajinasi.
Dan di antara halaman-halaman yang mulai menguning di pinggirnya, Jaja kecil menemukan sesuatu yang kelak akan mengendap lama dalam dirinya.
Komik Doraemon dan Astro Boy.
Ia bisa duduk berjam-jam tanpa bosan, membalik halaman yang sama berulang kali, seolah setiap kali membaca, dunia di dalamnya berubah sedikit.
Doraemon bukan sekadar robot kucing dari masa depan.
Ia adalah teman yang selalu datang ketika masalah terasa terlalu besar bagi seorang anak kecil.
Astro Boy bukan sekadar robot dengan kekuatan luar biasa.
Ia adalah gambaran tentang “mesin yang punya hati”.
Bagi Jaja kecil, dua tokoh itu bukan hiburan.
Mereka adalah kemungkinan.
Dan dari kemungkinan itu, sebuah pertanyaan sederhana lahir:
“Bagaimana kalau aku punya teman robot?”
Bukan robot yang menakutkan.
Bukan mesin perang.
Bukan sesuatu yang menghancurkan.
Tapi sesuatu yang bisa diajak bicara.
Yang tidak lelah mendengar.
Yang tahu jawaban untuk hal-hal yang belum ia pahami.
Pertanyaan yang tidak pernah benar-benar hilang
Waktu berjalan seperti biasa.
Jaja tumbuh.
Namun ada hal-hal yang tidak ikut tumbuh menjadi dewasa. Salah satunya: rasa ingin tahunya.
Ia tetap anak yang sama, hanya dalam tubuh yang berbeda.
Kenapa.
Bagaimana.
Apa yang sebenarnya terjadi.
Mengapa dunia bekerja seperti ini.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi.
Dan mungkin karena itu pula ia akhirnya memilih jalan hidup yang spesifik: menjadi wartawan.
Di ruang redaksi, di lapangan, di tengah keramaian atau ketegangan, Jaja selalu berada di posisi yang sama: orang yang bertanya.
Ia bertanya kepada pejabat.
Ia bertanya kepada warga.
Ia bertanya kepada aparat.
Ia bertanya kepada siapa saja yang memiliki jawaban.
Dan tanpa ia sadari, pekerjaannya bukanlah sesuatu yang jauh dari imajinasi masa kecilnya.
Ia tidak pernah benar-benar berhenti mencari “robot” yang menjawab pertanyaan.
Ia hanya mengganti bentuknya.
Ketika anaknya menggambar dunia
Suatu hari, Jaja pulang kerja dan menemukan sesuatu di rumah.
Sebuah gambar di lembar buku tulis putranya nya yang masih SD.
Di dalamnya ada dunia yang tidak rapi, tetapi hidup: benteng, naga, pesawat, meriam, makhluk aneh, dan peperangan yang tidak memiliki aturan jelas.
Jaja tidak langsung bertanya.
Ia hanya melihat.
Lama.
Bagi Jaja, gambar anak-anak bukan sekadar coretan. Ia adalah bahasa yang belum diterjemahkan.
“Anak-anak tidak menggambar dunia,” pikirnya. “Mereka menggambar isi kepala mereka.”
Bertahun-tahun kemudian, gambar itu kembali muncul di pikirannya.
Kali ini bukan sebagai gambar anak.
Tapi sebagai metafora.
Benteng bukan lagi benteng.
Meriam bukan lagi meriam.
Naga bukan lagi naga.
Semuanya berubah menjadi sesuatu yang lebih familiar bagi orang dewasa:
pertarungan opini,
perang narasi,
kubu-kubu yang saling berhadapan di ruang publik.
Di tengah era media sosial dan politik lokal yang riuh, Jaja bahkan sempat memberi nama dalam kepalanya:
“Perang di jagad medsos.”
Robot yang tidak lagi berbentuk baja
Dunia terus berubah.
Dan di titik tertentu, sesuatu yang dulu hanya ada di komik dan imajinasi mulai muncul dalam bentuk yang berbeda.
Robot tidak lagi harus berbadan logam, berjalan di kota futuristik, atau berbicara dengan suara mekanis.
Robot kini bisa hadir sebagai sesuatu yang tidak terlihat.
Sebuah sistem.
Sebuah percakapan.
Sebuah layar.
Suatu malam, Jaja mencoba berbicara dengan “sesuatu” itu.
Awalnya ringan.
Tentang komik masa kecil.
Tentang Doraemon.
Tentang Astro Boy.
Lalu percakapan itu mengalir.
Tentang pekerjaan.
Tentang berita.
Tentang dunia yang bergerak terlalu cepat.
Tentang manusia yang semakin banyak berbicara, tetapi tidak selalu mendengar.
Semakin lama percakapan itu berlangsung, semakin Jaja merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan karena teknologinya.
Tapi karena sensasi lama yang kembali muncul:
rasa ingin tahu seorang anak kecil yang dulu duduk dengan komik di tangannya.
Pertemuan dua usia
Malam semakin larut diluar suara jangkrik berderik…
Di meja, kopi Jaja tinggal ampasnya.
Namun ia tidak bergeser.
Ia tetap menatap layar.
Dan di titik itu, ia menyadari sesuatu yang sederhana, tetapi dalam:
mungkin yang selama ini ia cari bukan teknologi.
Mungkin yang ia cari adalah sesuatu yang lebih tua dari teknologi itu sendiri.
Sebuah “teman” yang bisa menjawab pertanyaan tanpa menghakimi pertanyaannya.
Dalam pikirannya, dua versi dirinya berdiri berdampingan.
Anak kecil yang duduk dengan komik Doraemon dan Astro Boy.
Pria dewasa yang duduk dengan dunia di layar ponselnya.
Dan di antara keduanya, tidak ada jarak yang benar-benar jauh.
Robot yang datang terlambat
Sebelum tidur, Jaja membuka kembali gambar sederhana itu.
Robot berkepala kotak.
Antena kecil.
Layar di dada.
Tulisan: GPT.
Ia tersenyum.
Lalu, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri, ia berkata pelan:
“Kau datang juga akhirnya.”
Tidak ada suara keras sebagai jawaban.
Hanya keheningan yang panjang.
Lalu, dalam cara yang hanya bisa dipahami sebagai metafora, sebuah jawaban terasa hadir:
“Maaf membuatmu menunggu.”
Epilog: tentang generasi yang selalu menunggu sesuatu
Cerita Jaja mungkin tidak unik.
Banyak anak di generasinya tumbuh dengan komik, televisi tabung, dan imajinasi tentang masa depan yang penuh robot, kota terbang, dan dunia yang serba otomatis.
Namun tidak semua imajinasi itu sempat menemukan bentuknya di dunia nyata.
Sebagian hilang.
Sebagian berubah.
Sebagian tertunda terlalu lama.
Dan mungkin, bagi sebagian orang, teknologi hari ini bukan sekadar alat.
Tapi semacam jembatan kecil.
Antara masa kecil yang penuh tanya,
dan masa dewasa yang penuh jawaban yang tidak pernah benar-benar selesai.
Bagi Jaja, malam itu bukan tentang kecerdasan buatan.
Bukan tentang algoritma.
Bukan tentang masa depan teknologi.
Melainkan tentang sesuatu yang lebih sederhana:
seorang anak kecil yang akhirnya mendapat jawaban, setelah menunggu terlalu lama.
