Ilmu Kencing Kanda
Ilmu Kencing Kanda
Ada satu kawan lama JaJa yang sampai hari ini masih menyisakan tanda tanya.
Sebut saja namanya Kanda.
Meski usianya sebenarnya lebih muda dari JaJa, kita panggil saja dia Kanda. Sosoknya unik, nyentrik, dan punya ketertarikan yang sangat besar terhadap dunia mistik.
Saat masih aktif sebagai wartawan di salah satu media, Kanda bahkan pernah mengisi rubrik khusus dunia misteri. Liputan favoritnya bukan soal politik atau kriminalitas, melainkan makam-makam keramat, petilasan orang sakti zaman baheula, lokasi yang dianggap angker, hingga berbagai kisah yang berbau klenik dan supranatural.
Sebagai sahabat sekaligus sesama wartawan, JaJa sering ikut dalam berbagai perjalanan itu.
Bukan karena terlalu percaya pada cerita-cerita mistik.
Justru sebaliknya.
JaJa lebih sering ikut karena rasa penasaran. Ingin melihat langsung, mencari pembuktian, sekaligus menambah pengalaman dan wawasan dari berbagai tempat yang mereka kunjungi.
Namun ada satu hal yang jauh lebih misterius daripada semua kisah gaib yang pernah diburu Kanda.
Yaitu kebiasaan anehnya sendiri.
Awalnya JaJa tidak menyadarinya.
Sampai suatu ketika mereka mengikuti study tour ke Bali.
Begitu bus wisata berhenti di kawasan Tanah Lot, saat peserta lain sibuk mencari spot foto dan menikmati pemandangan, Kanda justru lebih dulu mencari toilet umum.
JaJa menganggap itu hal biasa.
Namun kejadian serupa terus berulang.
Di berbagai tempat.
Di berbagai kota.
Di berbagai perjalanan.
Pola itu semakin jelas saat mereka berkunjung ke Yogyakarta.
Tengah malam Kanda mengajak JaJa berjalan-jalan ke kawasan Keraton Yogyakarta. Baru saja turun dari becak, hal pertama yang ditanyakannya kepada sang pengemudi bukan sejarah keraton, bukan jam operasional, bukan pula lokasi wisata menarik.
“Mas, numpang tanya, WC di mana?”
Sang tukang becak lalu menunjukkan sebuah toilet di sekitar lokasi.
Namun ketika mereka sampai di sana, pintunya ternyata terkunci.
JaJa mengira urusan selesai.
Ternyata tidak.
Kanda malah berjalan ke salah satu sudut tembok dan menyelesaikan urusannya di sana.
“Oi, jangan di situ lah!” tegur JaJa.
Kanda hanya menjawab santai.
“Kan WC-nya tutup.”
JaJa cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Bahkan di Pantai Parangtritis pun hal yang sama terjadi.
Angin laut berembus kencang, ombak Pantai Selatan terdengar bergulung pelan namun dalam, seolah membawa cerita-cerita lama tentang dunia mistis dan larangan-larangan yang diwariskan turun-temurun.
Namun Kanda tidak terlalu memperhatikan itu.
Begitu sampai, ia justru sibuk mencari toilet.
“Di mana WC di sini?” tanyanya lagi.
JaJa sempat melirik ke arah laut yang katanya penuh legenda itu, lalu kembali menatap Kanda yang tampak serius dengan misinya sendiri.
Seolah-olah, bagi Kanda, setiap tempat—entah itu makam keramat, keraton tua, atau pantai yang sarat cerita gaib—punya satu kesamaan utama:
harus ada WC dulu.
Sama hal Juga saat di Borobudur…
JaJa hanya bisa menarik napas panjang.
Puncak keanehan itu terjadi dalam sebuah perjalanan pulang menggunakan pesawat.
Penumpang baru saja naik ke kabin.
Pramugari masih mempersiapkan keberangkatan.
Pesawat bahkan belum bergerak dari apron.
Namun Kanda sudah lebih dulu menuju toilet pesawat.
Saat itulah JaJa akhirnya tak tahan menahan rasa penasaran yang selama ini dipendamnya.
“Bro, aku perhatikan setiap baru tiba di tempat mana pun, yang kau cari pasti WC untuk kencing. Jangan-jangan itu ilmu mua ya?” canda JaJa.
Kanda menoleh.
Lalu menyeringai.
“SSSTTT…”
Hanya itu jawabannya.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada pengakuan.
Hanya senyum misterius yang sampai hari ini tak pernah berhasil diterjemahkan oleh JaJa.
Anehnya, kebiasaan itu masih terus dilakoninya hingga sekarang.
Setiap kali bepergian.
Setiap kali tiba di tempat baru.
Setiap kali mengunjungi lokasi yang dianggap memiliki nilai sejarah, budaya, bahkan mistis.
Entah apa maksudnya, sampai sekarang JaJa juga tak faham…
Ah, terserah dialah…
Gumam JaJa sambil tertawa.
— JaJa 😁🚽🫢
