10/12/2026

Kepalangan, Sempalke Nian …!!!

0

Siang itu warung kafe di pinggir jalan Sumatera Selatan cukup ramai.

Asap kopi hitam naik perlahan dari gelas-gelas kaca. Di sudut ruangan, wartawan bernama Jaja sedang mengetik berita di laptop sambil sesekali menyeruput kopi. Niatnya mau menyelesaikan satu artikel sebelum sore.

 

Tapi seperti biasa, rencana wartawan sering kalah oleh suara orang di sebelah.

Awalnya Jaja tak terlalu memperhatikan.

Sampai terdengar suara seorang pria yang mondar-mandir sambil menggenggam ponsel.

Wajahnya kusut.

Kusutnya bukan lagi level kehilangan sandal.

Ini sudah level kehilangan harapan.

“Ado apo Bro, pecak rungsing nian kau?” tanya kawannya.

Pria itu langsung menjatuhkan badan ke kursi.

“Abis nelpon bapak itu.”

“Na trus, ngapo?”

“Aku mintak tolong baik-baik. Kuomongke dio, ‘Pak, aku mintak tolong masalah ni jangan diperpanjang. Aku mintak maaf nian.'”

“Nah, terus?”

Pria itu mendesah panjang.

“Tau dak apo jawabnyo?”

“Pedio?”

Dengan suara dibuat berat, ia menirukan.

“Dak pacak! Pokoknyo pekaro! Katek urusan!”

Meja mereka langsung sunyi.

Bahkan Jaja yang sedang mengetik tanpa sadar berhenti menekan keyboard.

“Naaah… kacau ini” gumam salah satu kawan.

“Belum selesai, dio cak nak ngancam jugo”

Pria itu kembali menirukan.

“Awas kau! Tunggu lah be kau yee…!”

Kali ini beberapa pengunjung mulai melirik.

Jaja diam-diam memasang telinga.

Naluri wartawannya langsung aktif.

Bukan karena ada berita.

Tapi karena ada hiburan gratis.

“Aiy…daaaah” keluh pria itu.

“Cak mano lah caronyo ye nak meredam bapak itu…”

Mulailah sesi musyawarah darurat.

Seorang kawan mengusulkan,

“Datangi bae rumahnyo.”

Yang lain menimpali,

“Ajak mediasi.”

“Mintak maaf lagi.”

“Bawak ke pempek apolah, temui”

Semua terdengar masuk akal.

Sampai akhirnya seorang pria yang terkenal paling banyak ide dan paling sedikit keberhasilan mengangkat tangan.

“Aku ado solusi.”!! !

Semua langsung menoleh.

Bahkan Jaja ikut menoleh dari balik layar laptop.

“Apo?”

Pria itu menarik kursi mendekat.

Lalu menurunkan suara seolah sedang membocorkan rahasia negara.

“Kito suap bae bapak itu…”

Semua melotot.

“Hah?!”

Pria itu mengangkat telunjuk.

“Kepalangan…”

Ia berhenti sejenak.

Lalu menyeringai lebar.

“Sempal ke nian!”

 

Seketika warung pecah oleh tawa.

“Hahahahaha!”

“Pejal ke nian !!!”

Bahkan pemilik warung yang sedang mencuci gelas ikut tertawa.

Pria yang sejak tadi panik pun akhirnya ikut terkekeh.

Jaja sampai salah ketik di laptop.

Seharusnya ketikan : “kondisi kamtibmas relatif aman” :

Berubah menjadi:

“Kepalangan Sempal ke nian kalau mau Aman”

Ia buru-buru menghapusnya sambil tertawa sendiri.

Belum selesai.

Si pemberi ide kembali menambahkan.

“Kalau nak aman, jangan setengah-setengah.”

“Ngapo?”

“Kepalangan Pejal ke nian, ke cocotnyo Biar dak sempat ngomong lagi.”

Tawa kembali meledak.

Seseorang hampir tersedak kopi.

Yang lain tergelak-gelak sambil memukul-mukul meja…

Jaja sampai menutup laptop.

Sudah tak mungkin fokus bekerja.

Dalam hati ia berpikir, inilah salah satu keajaiban warung kopi Sumsel.

Tempat orang datang dengan masalah.

Lalu pulang membawa tawa.

Masalahnya memang belum tentu selesai.

Orang yang marah belum tentu reda.

Perkara mungkin masih panjang.

Tapi setidaknya siang itu semua orang pulang dengan senyum.

Dan Jaja pun mendapatkan satu bahan cerita baru.

Bukan dari konferensi pers.

Bukan dari rapat pejabat.

Bukan pula dari wawancara eksklusif.

Melainkan dari sekelompok kawan yang sedang mencari solusi atas masalah hidup dengan metode khas warung kopi :

Musyawarah, kopi, dan sedikit ide gila.

Karena di Sumsel, kadang-kadang masalah besar memang belum tentu selesai hari ini.

Tapi kalau sudah duduk di warung kopi bersama kawan-kawan…

Beban hidup bisa berkurang separuh.

Separuh lagi?

Yo tetap ado.

Tapi paling dak, sambil ketawo. 😄☕

JaJa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *