50 Ribu Rupiah
Pagi itu dompet dan kantong Jaja kosong.
Usai beli kue di kedai Mbak Mega sepulang Subuh dari Masjid buat sarapan, isi bensin motor satu liter di penjual eceran, lalu kasih uang jajan ke puterinya, si “Mbak”, buat sangu ke sekolah, uang Jaja pun ludes tak bersisa.
Namun kondisi sempit begini bukan alasan buat Jaja libur mengantar si Mbak ke sekolah dengan motor matic bututnya yang sebenarnya sudah layak diganti sejak lama. Motor memang ada dua, tapi yang satu lagi belum ada duit buat masuk bengkel, jadi belum bisa dipakai. 😁
Sepanjang perjalanan mengantar si Mbak, otak Jaja berputar kencang.
Hari ini cari uang dari mana?
Pulang mengantar anak, pikirannya makin sibuk. Siapa kira-kira yang bisa kasih kerjaan instan, cash and carry, hari ini?
Baru sampai rumah, sang istri minta tolong beli pampers buat si bungsu.
“Aduuuh…”
Terpaksa Jaja jujur.
“Pakai dulu uang THR anak-anak yang kemarin dikasih-kasih itu, ya. Ayah lagi habis duit,” katanya dengan senyum malu.
Lalu Jaja teringat sesuatu.
Kemarin Aak baru dikasih uang Rp50 ribu oleh tantenya, Mila.
Dengan wajah memelas, Jaja mendekati anak ketiganya itu.
“Ak, Ayah pake dulu duit 50 nyo. Nanti Ayah ganti. Ini Ayah lagi abis duit, nak keluar gawe.”
Aak mengangguk santai.
“Yo. Tapi diganti nian, Yah. Jadi samo yang kemaren, duo ratus limo puluh utang Ayah.”
Jaja hanya mengangguk kecut.
Jam menunjukkan pukul 09.00 WIB.
Setelah membantu istri sebentar, mandi dan berpakaian rapi, Jaja langsung tancap gas. Hari itu ia berencana mengantar berkas tagihan order publikasi berbayar ke kantor Pemda.
Di tengah perjalanan, ilham datang tepat waktu.
Jaja mampir ke gudang Bos Rongsok, salah satu mitranya.
Memang kalau rezeki tidak ke mana.
Baru ngobrol sebentar dengan asisten Bos Rongsok, Jaja sudah diselipkan selembar uang Rp50 ribu buat sangu.
Alhamdulillah.
Wajah Jaja yang sejak pagi agak pucat seketika kembali dialiri darah.
Senyum mengembang di bibirnya.
Ada rasa syukur, bahagia, sekaligus lega.
Gas motor terasa lebih ringan.
Sekarang uang di kantongnya genap Rp100 ribu.
Sampai di kantor Pemda, berkas diserahkan. Ngobrol sebentar dengan beberapa orang di sana. Menjelang pukul 11.00 siang, Jaja pun pulang karena selepas Zuhur jadwal mengantar Aak masuk sekolah siang.
Dalam perjalanan pulang, Jaja mampir ke kedai lauk masak Yuk Mita di perempatan Jalan Sumatera.
Tiga macam lauk dibeli.
Lalu menyeberang membeli ayam goreng tepung ala-ala fried chicken dari gerobak di seberangnya.
Nah…
Di sinilah bencana kecil itu dimulai.
Saat hendak menyimpan uang kembalian, Jaja mendadak linglung.
Lho?
Kok uang lima puluh ribu yang satu lagi ngak ada?
Rogoh kantong depan.
Tidak ada.
Kantong belakang.
Tidak ada.
Saku kemeja.
Tidak ada.
Tas selempang.
Tetap tidak ada.
Jaja memeriksa semuanya lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Tetap nihil.
“Aduuuh… Kemano Duit nyo…”
Usai membayar ayam goreng tadi, entah kapan uang itu menghilang.
Jatuh saat mengeluarkan ponsel?
Terselip?
Terbang?
Atau diam-diam pindah tangan jadi milik orang lain?
Tidak ada yang tahu.
Di atas motor, Jaja mulai resah.
Baru beberapa jam lalu ia merasa lega.
Sekarang rasa sesak itu kembali datang membebani.
“Aaaahhggg… siaaaal nyoooo…”
Baru juga senang.
Susah masih betah menemani ku hari ini, batinnya.
“Ya Tuhan… kenapaaa…”
Lalu entah dari mana, seolah isi kepalanya sendiri menjawab.
“Emang Kenapa ???”
Jaja terdiam.
“Iyo jugo…”
Kalau rezeki memang tidak ke mana.
Tapi kalau belum jadi milik kita, mungkin cuma numpang lewat saja, orang Alim dan Bijak bilang begitu.
“Aaah, sudahlah.”
Tak mengapa.
Pasti ada hikmahnya.
Coba ikhlas, kata ustaz-ustaz.
Insya Allah diganti.
Jaja tersenyum kecut di atas motor.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan semuanya kepada istri tercinta.
Ibu dari anak-anaknya itu hanya tersenyum manis, mencoba menguatkan.
Aak makan siang sebelum berangkat sekolah.
Azan Zuhur berkumandang.
Mereka mampir salat berjamaah di masjid kompleks perumahan, lalu Jaja mengantar Aak ke sekolah.
Di atas motor, Jaja masih belum bisa melupakan kejadian tadi.
“Aaaaiy… siaaal nian Ayah hari ni, Ak. Dapet duit limoh puluh, hilang limoh puluh…”
Sambil berkata begitu, Jaja menyelipkan uang lima ribu untuk jajan Aak.
Dari pantulan spion, Aak hanya manggut-manggut sambil nyengir.
Entah menertawakan nasib ayahnya atau menghitung bertambahnya utang Ayah yang belum lunas. 😁
Malam harinya, saat semua sudah tenang, bayangan uang Rp50 ribu itu masih sesekali muncul di kepala Jaja.
Aneh memang.
Bukan karena jumlahnya.
Tapi karena datang dan perginya dalam hari yang sama.
Kalau mengingat momen itu sekarang, Jaja biasanya hanya tersenyum sambil mengerutkan kening.
Sebab hari itu ia belajar, rezeki memang tidak ke mana—hanya saja, ada yang menetap, ada pula yang sekadar numpang lewat.
Uang lima puluh ribu itu tak pernah ditemukan lagi.
Untungnya, yang hilang cuma uangnya. Ceritanya masih tinggal sampai sekarang. 😁
Perkara hilangnya uang lima puluh ribu itu hingga kini masih misteri dan belum terungkap.
Namun kasus tersebut resmi ditutup oleh korban dengan status :
ikhlas… Insya Allah. 😁
JaJa,
ditulis 01/05/2026
