10/12/2026

Anak yang Dulu Ketahuan Ambil Hot Wheels Itu…

0

Saat putera sulung Jaja, si Abang, masih SD kelas satu atau dua, kalau tak salah ingat, ada satu kejadian yang sampai sekarang masih terkenang. Sedikit memalukan, tapi juga mengharukan.

Waktu itu badan Abang masih gemuk. Pipi tembem, bulat, lucu, dan menggemaskan.

Anak Jaja baru dua orang. Si Mbak, adiknya Abang, masih TK.

Abang suka ikut Ayah JaJa ke mana-mana. Kecuali kalau JaJa sedang liputan, tentu saja tidak mungkin diajak. Tapi kalau sekadar main ke rumah kawan, belanja ke warung, mampir ke toko, atau cuma muter-muter naik motor cari angin, Abang hampir selalu ikut.

Hingga suatu siang, istri meminta Jaja membeli beberapa kebutuhan rumah tangga di salah satu Mart ternama, toko kelontong level nasional milik salah satu miliarder negeri ini.

Lokasinya tidak jauh dari rumah. Paling lima menit naik motor.

Dan seperti biasa, Abang ikut.

Sesampainya di sana, Jaja sibuk mencari barang-barang yang hendak dibeli. Sementara Abang asyik berdiri di depan rak mainan.

Matanya terpaku pada deretan mobil-mobilan mini Hot Wheels yang tergantung rapi.

Setelah semua barang selesai dipilih, Jaja menuju kasir.

Barang dibayar.

Struk diterima.

Lalu mereka berjalan menuju pintu keluar.

Namun baru beberapa langkah dari pintu kaca, seorang pemuda pekerja toko menghentikan mereka.

“Maaf, Pak. Tadi anaknya ambil mainan mobil belum dibayar.”

Astaghfirullah…

Jaja sontak terkejut.

Sekilas rasa marah sempat muncul.

Namun nada suara yang datar dan senyum ramah di wajah pemuda itu membuat Jaja cepat sadar.

Abang masih anak-anak.

Abang berdiri diam.

Wajahnya pucat.

Takut.

“Mana mobilannyo, Bang? Keluarkan.”

Abang tetap diam.

“Kenapo dak ngomong tadi kalau kepengen mobilan itu?”

Dengan kepala tertunduk, Abang merogoh kantong celananya.

Sebuah mobilan Hot Wheels kecil keluar dari sana.

Perlahan disodorkannya kepada Ayah JaJa.

Jaja segera mengambil mobilan itu dan menyerahkannya kepada pekerja toko.

“Dak apo-apo, Pak. Dibayar bae di kasir,” ujar pemuda itu dengan tenang.

Masalahnya…

Uang Jaja tidak cukup.

Anggaran belanja hari itu memang pas-pasan.

Tidak ada dana untuk menebus mobilan tersebut.

Dengan sedikit malu, Jaja pun jujur.

Lalu meminta maaf.

“Dak apo-apo, Pak. Namanya jugo anak-anak.”

Jaja kembali meminta maaf.

Sementara Abang tetap diam membisu.

Takut.

Malu.

Mungkin juga menyesal.

Sepanjang perjalanan pulang, Jaja banyak diam.

Di atas motor ia membatin.

“Ya Allah, kalau besok-besok aku ada uang lebih, akan kubelikan anakku mobilan tadi.”

Malu bercampur haru.

Jaja tidak memarahi Abang.

Ia hanya berkata pelan.

“Jangan diulangi lagi, Nak. Kalau Ayah dapat uang, Ayah belikan.”

Abang yang biasanya cerewet hanya mengangguk pelan sambil menunduk.

Tak lama setelah itu, saat ada uang di tangan, Jaja menepati janjinya.

Bahkan bukan satu.

Dua mobilan sekaligus.

Wajah Abang langsung berbinar.

Sejak saat itu, setiap ada rezeki lebih, sesekali Jaja mengajak Abang membeli Hot Wheels lagi.

Sedikit demi sedikit, koleksinya bertambah.

Suatu ketika, saat Abang dan Ibunya menginap di rumah kakek-nenek di kampung, Jaja sempat memotret Abang berdiri di depan sebuah Toko Mart.

Foto itu masih tersimpan sampai sekarang.

Belasan tahun berlalu.

Abang tumbuh menjadi remaja.

Lulus sekolah.

Lalu mulai bekerja.

Dan anehnya…

Hari ini Abang justru menjadi karyawan di salah satu cabang Toko Mart yang sama, tapi di ibu kota Provinsi kami.

Kadang saat mengingat kejadian mobilan Hot Wheels itu, Jaja hanya tersenyum sendiri.

Siapa sangka anak kecil yang dulu pernah ketahuan menyelipkan mobilan ke kantongnya karena ingin memiliki, kini berada di antara rak toko Mart yang ada jualan Mobilan Hot Wheelsnya

Aaaah…
Jalan cerita hidup memang sulit diterka.

Barangkali Tuhan sudah menulis sambungan kisah itu sejak lama.

Hanya saja, Jaja baru mengerti sekarang.

JaJa
Selasa 2/Jun/2026 pukul 02.00 dini hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *