10/12/2026

oleh : Anja Rolanza

Nyaris saja Jaja tidak bisa pulang hari itu. Sebuah agenda liputan investigasi di Desa Tapus, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, yang awalnya berjalan normal, berubah menjadi situasi mencekam ketika ia terpisah dari dua rekannya dan mendapati dirinya berada dalam tekanan sekelompok warga yang emosional, sebagian di antarannya membawa senjata tajam.

Peristiwa itu terjadi pada pertengahan November 2020. Hari itu Jaja berangkat dari Prabumulih bersama dua rekannya, Rian dan Hendra, menggunakan mobil Ayla milik Hendra. Itu menjadi pengalaman pertama Jaja turun liputan bersama dua juniornya dalam satu tim ke lapangan.

Di perjalanan, Rian sempat menjelaskan sekilas bahan yang akan dikonfirmasi ke pihak Pemerintah Desa Tapus. Namun Jaja tidak begitu menangkap secara utuh materi yang disampaikan dan lebih banyak menyimak perjalanan saja.

Sekitar 30 menit kemudian, mereka tiba di Kantor Pemerintah Desa Tapus. Saat itu kepala desa tidak berada di tempat, sehingga yang menerima kedatangan mereka adalah Sekretaris Desa bersama beberapa staf.

Setelah mengucapkan salam, proses konfirmasi pun dimulai. Jaja menyimak percakapan antara rekan-rekannya dengan pihak pemerintah desa sebagai narasumber.

Di sela kegiatan tersebut, Jaja menumpang mengisi daya ponselnya karena baterai mulai low. Tidak lama kemudian, azan Zuhur berkumandang. Jaja yang terbiasa melaksanakan salat berjamaah di masjid kemudian berpamitan untuk pergi ke masjid yang letaknya sekitar tiga menit dari kantor desa.

Ia diantar oleh Sekretaris Desa menggunakan sepeda motor.

Usai salat di masjid yang saat itu cukup sepi jemaah, Jaja kembali berjalan menuju kantor desa. Di perjalanan, ia sempat bertemu dan berjalan bersama seorang pria sepuh yang juga jamaah salat Zuhur. Pria itu sempat mengajak Jaja singgah, namun ditolak secara halus karena Jaja merasa harus kembali bersama dua rekannya di kantor desa.

Tak lama setelah itu, Sekretaris Desa yang tadi mengantarnya ke masjid tiba-tiba datang dengan sepeda motor dalam kondisi tergesa-gesa. Ia meminta Jaja segera kembali ke kantor desa.

“Cepat, Kak. Ikut ” ujarnya dengan nada berbeda dari sebelumnya.

Di dalam hati, Jaja mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Sesampainya di kantor desa, suasana sudah berubah. Terlihat sejumlah warga mulai berkumpul. Seorang pria bertubuh gempal langsung menyambut dengan suara tinggi.

“Nah ini kawan mereka… kalian datang bawa masalah saja ke sini! Mana kawanmu yang dua tadi?”

Jaja yang belum sepenuhnya memahami situasi hanya bisa mencoba menenangkan keadaan sambil mengamati sekitar. Ketika ia menoleh, mobil yang tadi ditumpangi Rian dan Hendra sudah tidak ada di lokasi.

Ia berusaha tetap tenang.

“Sebentar, kanda… ini sebenarnya apa masalahnya? Saya tadi habis salat di masjid, kok jadi begini,” ujar Jaja mencoba menjelaskan.

Namun suasana justru semakin panas. Tiga pria di hadapannya mulai mengepung secara perlahan. Situasi makin menegangkan ketika Jaja menyadari dua orang di antara mereka membawa senjata tajam—satu golok terselip di pinggang, dan satu lagi pisau.

“Kamu dan kawanmu yang cari masalah. Cepat telepon mereka, suruh kembali ke sini. Kalau tidak, kamu tidak bisa pulang sebelum urusan ini selesai!”

Jaja mulai menyadari bahwa situasi sudah genting.

Sekretaris Desa kemudian menyarankan agar Jaja masuk ke dalam ruangan kantor.

“Sudah, Kak, masuk saja dulu. Hubungi kawanmu,” katanya.

Jaja pun masuk ke ruang kerja Sekdes. Di sana ia mengambil ponsel yang sebelumnya sedang diisi daya. Layar ponselnya penuh dengan panggilan tak terjawab dari Rian.

Ia segera menghubungi rekannya Rian.

“Kamu tidak apa-apa, Kak?” suara Rian terdengar cemas.

“Alhamdulillah aku tidak apa-apa, tapi di sini ramai, panas. Kalian di mana?”

“Kami di Lembak. Bertahan dulu, kami cari bantuan.”

“Jangan lama, serius ini… ada yang bawa sajam. Aku di sini sudah terjepit,” jawab Jaja.

Rian meminta Jaja bertahan dan berjanji akan mengutus seorang kenalan nya warga sana untuk menjemput.

Tak lama berselang, seorang pemuda datang menggunakan motor besar untuk menjemput Jaja. Namun upaya itu gagal karena warga yang menolak Jaja dibawa keluar sebelum rekan-rekannya kembali.

Di tengah kebuntuan itu, Jaja melihat celah untuk bertahan. Ruang kerja Sekdes memiliki teralis besi di pintu. Ia kemudian masuk dan meminta kunci gembok.

Dengan cepat, ia mengunci teralis dari dalam. Untuk sementara, itu menjadi tempat paling aman baginya.

Dari dalam ruangan, Jaja kembali menghubungi Rian dan meminta agar segera menghubungi Polsek Lembak dan meminta bantuan aparat kepolisian.

“Kamu ke Polsek saja langsung, ceritakan situasi disini, minta bantuan, ajak anggota berseragam… Ini sudah tidak terkendali,” katanya.

Di luar, suasana semakin riuh. Terdengar teriakan dan kegaduhan yang tidak lagi bisa dibedakan arahnya. Jaja hanya bisa bertahan sambil berdoa dan menenangkan diri.

Ia sempat teringat keluarganya—anak-anaknya yang masih sekolah, istri yang menunggu di rumah. Dalam hati ia hanya bisa berdoa agar keselamatan masih diberikan.

“Ya Allah, selamatkan aku…”

Sekitar 10 hingga 15 menit kemudian, suara sirine kendaraan polisi terdengar memasuki area kantor desa. Tiga mobil kepolisian tiba di lokasi, termasuk mobil patroli dan kendaraan operasional Polsek Lembak, disusul mobil yang membawa Rian dan Hendra.

Kerumunan warga sontak bubar.

Jaja segera membuka gembok teralis dan keluar dari ruang kerja Sekdes.

“Mana wartawan yang tadi dilaporkan ditawan di sini?” tanya salah satu anggota polisi.

“Saya di sini,” jawab Jaja.

Setelah situasi terkendali, Jaja dan kedua rekannya dimintai keterangan di Polsek Lembak untuk menjelaskan kronologi kejadian.

Beberapa hari kemudian, Kepala Desa Tapus datang menemui Jaja dan rekan-rekan untuk menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut.

Seminggu berselang, Jaja kembali melanjutkan tugas jurnalistiknya dalam agenda kunker dan study tiru yang dilaksanakan oleh Pemkot Prabumulih ke Pemprov Bengkulu. Jaja ikut dalam kegiatan ini

Saat di Bengkulu, telpon Jaja berdering, Rian menelpon : bercerita dia dan Hendra diminta menjadi saksi oleh Pihak Polsek Lembak.

Rian juga mengabarkan pria yang mengintimidasi Jaja sudah digelandang Polisi Lembak…., mereka memang sudah menjadi TO kasus yang lain dan dilaporkan cukup meresahkan….

“Pak Kapolsek kirim salam buat Jaja…”

Peristiwa di Desa Tapus itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan—sebuah liputan yang semula biasa saja, berubah menjadi ujian antara keberanian, ketenangan, dan rasa selamat pulang ke rumah. Jaja Nyaris Mampus di Desa Tapus.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *