Toko Emas Jujur yang Pernah Tak Jujur
Pernah diterbitkan di Majalah Berita Media Sriwijaya dengan judul : Toko Emas Jujur yang Tak Jujur
diceritakan ulang ala JaJa
Kejadian ini sekitar tahun 2012.
Saat itu Kanda, sahabat JaJa, sedang membutuhkan uang mendadak. Di jarinya melingkar sebuah cincin emas bermata merah darah yang sudah cukup lama menemaninya. Cincin itu bukan sekadar perhiasan. Ada sejarah dan kenangan yang melekat di dalamnya. Karena itulah Kanda enggan menjualnya.
Pilihan yang dianggap paling masuk akal waktu itu adalah menggadaikannya.
Maka berangkatlah Kanda ditemani JaJa menuju Pegadaian di kota kami.
Awalnya semua berjalan biasa saja.
Namun suasana berubah ketika petugas mulai menaksir kadar emas cincin tersebut. Setelah diperiksa beberapa saat, petugas menggeleng pelan.
“Ini tidak sampai 24 karat, Pak.”
Kanda langsung mengernyit.
“Lho, di surat pembelian tertulis 24 karat,” bantahnya sambil menunjukkan bukti pembelian.
Petugas kembali memeriksa, lalu menjelaskan bahwa berdasarkan hasil taksiran mereka, kadar emas cincin itu memang tidak mencapai angka yang tercantum dalam surat.
Beberapa pengunjung yang sedang menunggu giliran ikut memperhatikan. Ruangan yang tadinya biasa saja mendadak terasa seperti ruang sidang kecil.
“Beli di mana, Pak?” tanya petugas.
Kanda menunjukkan surat yang ada di tangannya.
“Di Toko Emas Jujur.”
Petugas tersenyum tipis.
“Kalau begitu yang jual emasnya yang tidak jujur, Pak.”
Kalimat itu seperti menyiram bensin ke bara yang sudah menyala.
Sontak Kanda meradang.
Sebagai wartawan, ia bukan hanya merasa rugi, tetapi juga merasa dipermalukan. Cincin itu batal digadaikan.
Begitu keluar dari Pegadaian, jiwa wartawannya langsung bergolak. Dengan wajah masih merah menahan kesal, ia mengajak JaJa menuju pasar tempat berdirinya Toko Emas Jujur.
Motor dipacu cukup kencang.
Setibanya di sana, kamera langsung diangkat. Kilatan lampu kamera menyambar etalase toko. Para pengunjung dan karyawan mendadak terkejut.
“Ada apa ini?”
Tanpa banyak basa-basi, Kanda langsung meminta bertemu pemilik toko.
Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan mengaku sebagai pemilik yang sedang menjaga toko saat itu.
Kanda pun menjelaskan panjang lebar pengalaman yang baru saja dialaminya di Pegadaian. Dengan nada tinggi dan penuh kekecewaan, ia mempertanyakan keaslian kadar emas yang tercantum dalam surat pembelian.
Sang pemilik hanya berusaha memberikan penjelasan sekenanya. Sayangnya suaminya yang biasa mengurus urusan teknis toko sedang tidak berada di tempat.
JaJa meninggalkan kartu nama redaksi.
Lalu kami pulang.
Sesampainya di markas, JaJa langsung mengetik konsep berita. Saat itu belum ada portal berita online seperti sekarang. Semua masih mengandalkan media cetak.
Naskah dikirim ke dapur redaksi.
Naik cetak.
Dan esoknya…
Headline.
Berita tentang Toko Emas Jujur langsung menyebar ke mana-mana. Kalau memakai istilah zaman sekarang, mungkin bisa disebut viral.
Beberapa hari kemudian, sang pemilik toko yang akrab dipanggil Mamas menghubungi redaksi.
Ia ingin bertemu.
Bukan untuk marah.
Bukan pula untuk menggugat.
Ia datang untuk memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf atas kesalahan yang terjadi di pihaknya.
Pertemuan berlangsung baik.
Ketegangan yang sebelumnya mengeras perlahan mencair.
Islah pun terjadi.
Hubungan yang semula diwarnai kemarahan berubah menjadi hubungan baik dan kemitraan. Kanda dan redaksi juga memperoleh kompensasi atas persoalan tersebut.
Bahkan ada satu hal yang sampai sekarang masih membuat JaJa tersenyum jika mengingatnya.
Sejak kejadian itu, cincin emas bermata merah darah milik Kanda mendapat “hak istimewa”.
Kapan saja Kanda membutuhkan dana mendadak, cincin itu boleh digadaikan langsung di Toko Emas Jujur.
Tidak ada batas waktu tebus.
Tidak ada tenggat yang mengikat.
Mau ditebus minggu depan, bulan depan, bahkan ketika uang sudah tersedia entah kapan, tetap diterima.
Sebuah keistimewaan yang lahir dari sebuah persoalan yang sempat menggemparkan kota kecil kami.
Kini Toko Emas Jujur sudah lama tutup.
Mamas sang pemilik pun telah berpulang ke pangkuan Pemilik Semesta.
Namun kisah Toko Emas Jujur yang disebut tidak jujur oleh petugas penaksir Pegadaian itu masih tersimpan rapi dalam ingatan JaJa.
Kadang, jika teringat kejadian tersebut, JaJa hanya tersenyum sendiri.
Manggut-manggut pelan.
Cincin Kanda itu ternyata sakti.
Sakti seperti pemiliknya yang memang gemar dengan hal-hal berbau supranatural. 😆
Sebab sebuah cincin yang nyaris memicu sengketa justru berubah menjadi jalan persahabatan dan modal cuan instan.
Kanda yang datang dengan amarah, pulang membawa kompensasi, kemitraan, bahkan fasilitas istimewa yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Kalau rejeki memang tak ke mana…”
Gumam itu keluar pelan dari bibir JaJa, diiringi seringai khas yang menghiasi parasnya.
Maklum, JaJa juga ikut kecipratan kompensasi waktu itu. 😁
JaJa
Catatan sambil menunggu mekanik membetulkan motor yang mogok.
Rabu, 3 Juni 2026
Pukul 10.00 WIB
