Dua Pulau di Selat Sunda
Angin laut Selat Sunda bertiup lembut sore itu. Gelombang bergulung tenang ketika kapal yang ditumpangi rombongan peserta Rakernas Ikatan Wartawan Online (IWO) Tahun 2025 membelah perairan menuju Sumatera.
Di atas dek kapal, beberapa peserta memilih duduk menikmati angin laut. Sebagian sibuk memotret pemandangan, sebagian lagi bercengkerama melepas lelah setelah perjalanan panjang dari Jakarta.
Jaja, wartawan yang sejak tadi lebih banyak menikmati suasana sambil menyeruput kopi, duduk tak jauh dari dua rekannya.
Dua orang itu adalah Kuyung Tarmizi, Sekretaris Daerah IWO Musi Banyuasin, dan Hasim, bendahara organisasi yang terkenal hemat kalau urusan kas, tetapi royal kalau urusan ngopi.
Awalnya Jaja tidak terlalu memperhatikan.
Namun ketika obrolan mereka mulai membahas soal membeli pulau, telinganya spontan menjadi lebih awas.
Di kejauhan tampak dua pulau kecil berdiri anggun di tengah laut.
Tarmizi menunjuk salah satunya.
“Kak Hasim…”
“Hemm?”
“Kalo pulau itu kito beli, cocok nian ditanami sawit.”
Hasim mengangguk pelan sambil menyipitkan mata ke arah pulau tersebut.
“Betul. Aku tadi jugo mikir begitu. Tanahnyo kelihatan subur.”
Jaja yang mendengar itu menahan senyum.
Ia melirik ke arah laut, lalu kembali melirik kedua sahabatnya.
Dalam hati ia bertanya-tanya.
Ini sedang menyusun strategi investasi atau sedang kurang tidur habis Rakernas?
Kedua pria itu tampak semakin serius.
Mereka memandangi pulau tersebut seolah sedang menilai aset miliaran rupiah.
Padahal, pikir Jaja, kemungkinan besar saldo rekening mereka sama-sama sedang menunggu tanggal muda.
Tak lama kemudian, Tarmizi menunjuk pulau satunya lagi.
“Kalau yang itu, aku usul untuk kawan-kawan IWO Prabumulih.”
“Untuk apo?” tanya Hasim.
“Berkebun pisang Ambon.”
“Wah mantap nian,” sahut Hasim. “Satu pulau sawit, satu pulau pisang.”
“Program peningkatan income anggota.”
“Ekonomi kerakyatan berbasis kewartawanan.”
“Untuk kemaslahatan masyarakat Musi Banyuasin.”
“Aamiin.”
Jaja menunduk sambil mengaduk kopi.
Ia berusaha tetap serius.
Gagal.
Pundaknya mulai bergetar menahan tawa.
Beberapa penumpang lain mulai melirik ke arah mereka.
Mungkin mengira sedang berlangsung rapat bisnis berskala nasional.
Padahal yang sedang dibahas hanyalah dua pulau yang bahkan belum tentu diketahui namanya.
“Pulau itu sudah deal belum?” tanya Hasim.
“Sudah.”
Jaja langsung mengangkat kepala.
“Hah?” Hasim ikut terkejut.
“Kapan?”
“Tadi.”
“Tadi kapan?”
“Pas kapal lewat.”
Jaja hampir menyemburkan kopinya.
“Kau beli pakai apo?” tanya Hasim.
“Cash.”
“Cash dari mano?”
“Dana pribadi.”
“Alhamdulillah. Berarti dak ado bantuan pemerintah.”
“Tidak ado. Murni investasi.”
Tawa mereka pecah.
Jaja yang sedari tadi berusaha menjadi wartawan profesional akhirnya menyerah dan ikut tertawa.
Gelombang laut di bawah kapal seolah ikut bergoyang mengikuti suasana.
Percakapan belum berhenti.
Justru makin liar.
Menurut pengakuan Tarmizi, selama berada di Jakarta mereka bahkan sempat bertemu investor yang tertarik mendukung proyek perkebunan dua pulau tersebut.
“Investor dari mano?” tanya Hasim.
“Rahasia.”
“Perusahaan besar?”
“Lebih besar lagi.”
“Wah…”
“Imajinasi Group International.”
Kali ini bukan hanya Hasim.
Jaja pun tertawa terbahak-bahak.
Beberapa penumpang lain ikut tersenyum meski tidak mengerti konteks pembicaraan.
Matahari mulai turun ke ufuk barat.
Langit berubah jingga keemasan.
Dua pulau yang tadi menjadi objek investasi khayalan perlahan menjauh di belakang kapal.
Jaja memandang ke arah sana.
Dalam benaknya, ia membayangkan seperti apa jika ide kedua sahabatnya benar-benar terwujud.
Ada perkebunan sawit membentang luas.
Ada kebun pisang Ambon yang menghasilkan panen melimpah.
Ada anggota IWO menerima pembagian hasil usaha.
Bahkan mungkin sudah berdiri kantor megah bertuliskan:
Holding Perkebunan Wartawan Nusantara
Direktur Utama: Imajinasi Bersama.
Ketika kapal semakin mendekati pelabuhan, Hasim menepuk bahu Tarmizi.
“Zi…”
“Apo?”
“Kalau nanti benar pulau itu jadi milik kito?”
“Kenapo?”
“Kito pasang papan besar.”
“Tulisan apo?”
Hasim tersenyum lebar.
“Dilarang Masuk Selain Wartawan dan Investor Khayalan.”
Kali ini tawa mereka pecah lebih keras.
Jaja hanya menggelengkan kepala.
Perjalanan pulang dari Rakernas ternyata tidak hanya membawa catatan organisasi, hasil sidang, dan rekomendasi program kerja.
Tetapi juga membawa satu pelajaran penting:
Bahwa di tengah kerasnya profesi wartawan, selalu ada ruang untuk bercanda, berkhayal, dan tertawa bersama sahabat.
Sementara itu, dua pulau di Selat Sunda tetap berdiri tenang seperti biasa.
Menjadi saksi bisu sebuah kerajaan perkebunan yang mungkin tidak pernah ada di dunia nyata.
Namun sangat nyata di dalam imajinasi para wartawan yang sedang menikmati perjalanan pulang.
Tamat. 😄📖🌴🍌☕🚢
