KEKALAHAN YANG DRAMATIS
Usai Pilkada salah satu kota di Sumatera Selatan tahun 2024, wartawan Jaja kembali melakukan rutinitas yang sudah berkali-kali ia jalani selama bertahun-tahun: mendengar cerita orang-orang setelah pesta demokrasi usai.
Sudah entah berapa kali Jaja menyaksikan pemilihan kepala daerah berlangsung.
Dari zaman baliho dicetak seadanya, spanduk masih ditulis tangan, hingga kini ketika medan pertempuran politik berpindah ke layar ponsel dan media sosial.
Dulu, kabar kemenangan atau kekalahan baru ramai dibahas di warung kopi sehari setelah pencoblosan.
Kini, hitungan menit setelah TPS ditutup, ribuan orang sudah berdebat di kolom komentar.
Begitulah perkembangan zaman.
Dan harus diakui, pilkada selalu punya cerita.
Bukan hanya tentang calon yang menang atau kalah, melainkan juga tentang harapan, keyakinan, persahabatan, hingga kekecewaan para pendukungnya.
Sore itu, selepas menyelesaikan liputan, Jaja bertemu seorang kawan lama di sebuah kedai kopi sederhana.
Wajah kawannya masih seperti biasa.
Hanya saja senyumnya terlihat agak berbeda.
Senyum seseorang yang sedang berusaha menerima kenyataan.
Di hadapannya segelas kopi yang mulai dingin.
Di tangannya sebuah telepon genggam yang tak henti-hentinya digulir.
Sesekali muncul video kemenangan lawan politiknya.
Sesekali muncul status kawan-kawan seperjuangan yang masih sibuk mencari penjelasan.
Jaja yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya bertanya.
“Cak, kenapo? Dari tadi kulihat serius nian.”
Kawannya menghela napas.
Lalu tersenyum tipis.
“Kekalahan yang dramatis, Ja…”
Jaja tertawa kecil.
Kalimat itu terdengar seperti judul film.
“Berapo dramatisnyo?”
Kawannya menatap layar ponselnya beberapa detik.
Seolah sedang memilih kata yang tepat.
Lalu menjawab pelan.
“Di pucuk kertas yakin. Jago kami lebih unggul. Pengalamannyo ado, gelarnyo banyak, waktu debat kelihatan cerdas. Pokoknyo kami ngeraso dio pantes jadi kepala daerah.”
Kawannya tersenyum kecut.
“Tapi jagoan kami dak nyangko pelor musuh ngambur nyembur nian, Ja.”
Ia tertawa kecil sambil mengangkat bahu.
“Tapi yo sudahlah. Namonyo jugo pertandingan. Ado yang menang, ado yang kalah.”
“Senang dak senang, akhirnyo kito terimo.”
“Yo… cak itulah ceritonyo. Kalah banyak perolehan suaro, yo kalah jago kito.”
Tak ada nada marah.
Tak ada umpatan.
Tak ada pula teori-teori besar yang sering muncul setelah pemilu.
Hanya kalimat sederhana dari seorang pendukung calon yang kalah.
Jaja melihat jempol kawannya kembali bergerak menggulir layar.
Video demi video lewat.
Status demi status muncul.
Sebagian masih menyalahkan keadaan.
Sebagian lagi sibuk menghitung andai dan kalau.
Andai daerah ini begitu.
Kalau wilayah itu begini.
Andai suara di sana bertambah.
Kalau dukungan ini tidak pecah.
Padahal semua itu sudah menjadi sejarah.
Sebagai wartawan, Jaja sudah terlalu sering menyaksikan pemandangan seperti ini.
Sebelum pencoblosan, hampir semua orang yakin akan menang.
Sesudah hasil keluar, semua orang belajar menerima kenyataan dengan caranya masing-masing.
Jaja menyeruput kopi yang mulai dingin.
Lalu memandang kawannya.
Entah mengapa, saat itu ia justru melihat sisi paling menarik dari demokrasi.
Bukan ketika orang merayakan kemenangan.
Melainkan ketika seseorang mampu menerima kekalahan dengan lapang dada.
Karena kemenangan memang menghadirkan kegembiraan.
Tetapi menerima kekalahan tanpa kehilangan akal sehat, tanpa kehilangan persahabatan, itulah kedewasaan.
Tak lama kemudian, kawannya menyimpan ponsel.
Berdiri.
Merapikan bajunya.
Lalu berkata sambil terkekeh.
“Sudahlah. Pilkada berikutnyo masih lamo. Sekarang yang penting cari rezeki dulu.”
Jaja ikut tertawa.
Benar juga.
Sebab setelah semua baliho diturunkan, setelah semua status politik tenggelam oleh waktu, kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Pasar tetap buka.
Orang tetap bekerja.
Anak-anak tetap berangkat sekolah.
Dan kopi di warung itu tetap harus dibayar.
Jaja mencatat kalimat terakhir itu dalam ingatannya.
Karena sering kali, pelajaran terbesar dari sebuah pilkada bukan datang dari mereka yang menang.
Melainkan dari mereka yang kalah, lalu memilih untuk tetap melanjutkan hidup.
Ia memandang sisa kopi di gelas kawannya yang sudah dingin.
Lalu tersenyum kecil.
“Mungkin inilah yang bisa disebut Teori Pucuk Kertas Digilas Hasil Kotak Suaro,” gumamnya.
Sebab di atas kertas, pengalaman bisa dihitung.
Gelar bisa ditulis.
Debat bisa dinilai.
Strategi bisa dirancang.
Namun di hadapan kotak suara, semua itu hanyalah bagian dari kemungkinan.
Karena keputusan terakhir tetap berada di tangan rakyat.
Dan ketika kotak suara sudah berbicara, semua teori harus belajar menerima kenyataan, karena esok hidup masih harus dijalani.
☕🤓 JaJa,
catatan usai Pilkada 2024
ditulis ulang Senin,1/05/26
